Minggu, 03 Juni 2018

Tak Ada Hujan di Bulan Juni

Tak ada hujan di Bulan Juni. Cuma daun-daun jatuh. Aku ingin mencium bibirmu, kataku. Jangan, katamu. Aku diam. Kau juga diam.

Aku benci bibirku yang selalu menginginkan bibirmu. Apa memang begitu bibir orang yang sedang jatuh cinta? Tapi kenapa bibirmu tak menginginkan bibirku?

Langit Juni bersinar terang dipenuhi bintang. Angin berhembus pelan di sela-sela harum rambutmu. Jari-jariku masuk menyelinap ke jemarimu. Kucium pipimu.

Tak ada hujan di Bulan Juni, hanya daun-daun jatuh ditiup angin. Kauremas lembut jemariku,  dan kulihat matamu terpejam.

Selasa, 09 Januari 2018

Presiden Datang dan Pergi

Presiden datang dan pergi silih berganti. Paling lama dua periode. Demikian juga gubernur. Tetapi anak-anak harus tetap sekolah. Tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.

Pergantian kekuasaan sebagaimana telah diatur oleh konstitusi, seharusnya bertujuan untuk kesejahteraan rakyatnya, bukan malah membuat rakyat terpecah-belah, membuat rakyat saling menyimpan benci karena perbedaan. Apalagi anak-anak harus tetap sekolah, tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.

Setiap warga negara berhak jadi pemimpin. Ingatlah, bahwa apa yang menjadikan Douwes Dekker, Shihab, Tan, De Fretes, Panjaitan,  Robert, Hasan, Lalu, Made, Udin, Otong Indonesia adalah konstitusi. Sekelompok orang tak menjadi lebih Indonesia dari yang lainnya karena sukunya, karena agamanya, karena pakaiannya. Semuanya setara. Sama! Dan anak-anak harus tetap sekolah, tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.

Pemimpin-pemimpin datang dan pergi silih berganti, tetapi Indonesia harus tetap ada. Dan selama Indonesia ada, anak-anak harus tetap sekolah, tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.


Lo lagi ngapain, Bro? tanya saya heran melihat seorang teman yang sedang bersemangat bicara sendiri di pinggir empang.

Eh, elo, Bray, katanya sambil nyengir. Ini, Bray... Gua lagi latihan ngemeng. Kayaknya enak jadi politikus. Apa-apa aja disediain sama negara. Orang-orang pada hormat sama kita.

Oh gitu. Dari tadi elo latihannya?

Lumayanlah, ada satu jam lebih. Haus juga jadinya nih. Ngopi kita?

Yuuuk, sahut saya. Eh, kalo elo nanti udah jadi, jangan lupa gua ya, Bro...

Tenang aja, Bray. Temen itu selamanya temen. Nanti elo yang pertama gua kasih proyek.

Asiiiiikkkk... Bener ya? Gua pegang omongan lo!

Kapan sih gua bohong sama elo? jawabnya.

Kemaren! sahut saya cepat.

Dia garuk-garuk kepala lalu tertawa. Saya ikut tertawa melihat wajahnya yang lucu. Dia lalu merangkul saya. Tapi nanti kalo gua udah jadi, gua gak bakalan bohong lagi deh sama elo, katanya. Dasar pembohong, kata saya dalam hati. Kami berdua tertawa, berangkulan menuju warung kopi, tempat rakyat jelata menghibur diri.