Selasa, 09 Januari 2018

Presiden Datang dan Pergi

Presiden datang dan pergi silih berganti. Paling lama dua periode. Demikian juga gubernur. Tetapi anak-anak harus tetap sekolah. Tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.

Pergantian kekuasaan sebagaimana telah diatur oleh konstitusi, seharusnya bertujuan untuk kesejahteraan rakyatnya, bukan malah membuat rakyat terpecah-belah, membuat rakyat saling menyimpan benci karena perbedaan. Apalagi anak-anak harus tetap sekolah, tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.

Setiap warga negara berhak jadi pemimpin. Ingatlah, bahwa apa yang menjadikan Douwes Dekker, Shihab, Tan, De Fretes, Panjaitan,  Robert, Hasan, Lalu, Made, Udin, Otong Indonesia adalah konstitusi. Sekelompok orang tak menjadi lebih Indonesia dari yang lainnya karena sukunya, karena agamanya, karena pakaiannya. Semuanya setara. Sama! Dan anak-anak harus tetap sekolah, tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.

Pemimpin-pemimpin datang dan pergi silih berganti, tetapi Indonesia harus tetap ada. Dan selama Indonesia ada, anak-anak harus tetap sekolah, tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.


Lo lagi ngapain, Bro? tanya saya heran melihat seorang teman yang sedang bersemangat bicara sendiri di pinggir empang.

Eh, elo, Bray, katanya sambil nyengir. Ini, Bray... Gua lagi latihan ngemeng. Kayaknya enak jadi politikus. Apa-apa aja disediain sama negara. Orang-orang pada hormat sama kita.

Oh gitu. Dari tadi elo latihannya?

Lumayanlah, ada satu jam lebih. Haus juga jadinya nih. Ngopi kita?

Yuuuk, sahut saya. Eh, kalo elo nanti udah jadi, jangan lupa gua ya, Bro...

Tenang aja, Bray. Temen itu selamanya temen. Nanti elo yang pertama gua kasih proyek.

Asiiiiikkkk... Bener ya? Gua pegang omongan lo!

Kapan sih gua bohong sama elo? jawabnya.

Kemaren! sahut saya cepat.

Dia garuk-garuk kepala lalu tertawa. Saya ikut tertawa melihat wajahnya yang lucu. Dia lalu merangkul saya. Tapi nanti kalo gua udah jadi, gua gak bakalan bohong lagi deh sama elo, katanya. Dasar pembohong, kata saya dalam hati. Kami berdua tertawa, berangkulan menuju warung kopi, tempat rakyat jelata menghibur diri.

Minggu, 24 Desember 2017

Sepatu

Lelaki itu merasa geli sendiri memandangi sepatu kesayangannya yang terlihat seperti sedang tersenyum.

"Malam Natal akan tiba dalam beberapa jam lagi. Tidak baik sepatu ini nanti senyum-senyum sendiri di dalam gereja. Apa lagi kalau sampai mangap. Tidak boleh!" katanya dalam hati.

Juru selamat sepatu adalah tukang reparasi sepatu. Segera ia berangkat dengan misi penyelamatan.

"Wah, banyak pasiennya ya, Pak?" sapanya kepada bapak tua tukang sol sepatu sambil menyerahkan sepatunya.

"Lumayan, Mas... Rejeki mah ada aja."

"Tolong yang rapi ya, Pak, saya mau pakai untuk natalan."

Bapak tua tukang sol sepatu itu menganggukkan kepala sambil memperhatikan senyum pada sepatu yang kini ada di tangannya.

"Tak ada yang lebih tabah daripada sepatu," kata Bapak tua itu sambil menjahit sepatu yang berserah penuh kepadanya.

"Lho... Itu mirip sajaknya Sapardi... Bapak suka puisi juga?"

"Iya, Mas. Kadang-kadang saya juga bikin puisi. Tapi mana ada yang mau mendengar atau membaca puisi tukang sol sepatu seperti saya."

"Kirim ke koran aja, Pak..."

"Malu ah, Mas... Nanti dikira orang saya ini penyair. Padahal cuma tukang sol sepatu."

Lelaki pemilik sepatu hanya tersenyum mendengar jawaban bapak tua itu.

"Beres!" kata bapak tua itu setelah menyelesaikan tugasnya. "Semoga awet ya... Oh, iya, selamat Natal ya, Mas..."

"Terima kasih. Bapak Natalan juga?"

"Nggak, Mas. Saya agnostik."

"Busyet..." kata Si Pemilik sepatu dalam hati sambil tersenyum. Kali ini sambil menggaruk kepalanya.

"Semoga Natalannya meriah ya, Mas Penyair," kata bapak tua itu sekali lagi

"Makasih ya, Pak... Tapi saya bukan penyair, lho... Saya penginjil."

"Iya, saya kira juga begitu. Tampak jelas dari bentuk sepatunya."

"Hahaha..." Si pemilik sepatu hanya tertawa sambil memandangi hak sepatunya yang telah menipis pada sisi luarnya.

Mengucapkan terima kasih sekali lagi, lelaki itu mohon diri kepada bapak tua tukang sol sepatu.

Malam Natal tiba dengan segala kelembutannya serupa wajah bayi. Bintang-bintang berkerlap-kerlip gembira dalam rangkaian indah menyerupai gambar sepasang sepatu.

Lelaki itu memasuki gereja dengan senyum riang. Seperti senyum seorang anak kecil yang bahagia mendapatkan sepatu baru di Hari Natal.