Sabtu, 14 Oktober 2017

Aku Ingin

(Versi tukang parkir di Pasar Kramat Jati yang jatuh hati kepada penjual kue cucur yang cantik banget)

aku ingin mencintaimu gak tanggung-tanggung
dengan rasa manis yang paling didamba
tepung kepada minyak yang menjadikannya cucur

aku ingin mencintaimu gak tanggung-tanggung
dengan rindu yang tak pernah putus
cincin kepada jari manis yang menjadikannya berarti

Minggu, 01 Oktober 2017

October Kiss

“Udah mulai hujan ya…”

“Iya…”

“Kenapa ya, hujan sepertinya selalu bisa mengaduk-aduk perasaan kita?”

“Iya, aku juga sering mikir gitu. Sepertinya ia membawa kepedihan sekaligus keindahan…”

“Mungkin karena dia juga datang membawa dingin, maka kita menciptakan sesuatu yang hangat di pikiran kita, di hati kita.”

“Mungkin…”



Kami berdua terdiam. Lalu tiba-tiba…

“Muuaaaccchhhh…”

“Eh, kamu tuh ya, cium aku nggak permisi dulu,” kataku memegang bibirku.

“Biarinnn… mau marah? Nih, aku tambahin lagi. Muaaahhhh… Muaaahhhh… Muaaahhhhhh….”

“Hahaha… Bandel yaaa…”

“Tapi kamu suka kaaannnn…?”

“Iyaa…”

“Hahaha… Emang maunya… eh, aku harus kerja lagi nih. Musim hujan gini, kamu jaga kesehatan ya, sayang…”

“Iya, cantik. Kamu juga ya…”

“Iya… I love you…”

“Love you too…”

“Bye…”

“Bye too…”

Dia menutup teleponnya.



Langit hijau mencurahkan hujan ke atap dan jendela kaca gedung-gedung tinggi, halte bis kota, dan pepohonan di tepi trotoar jalan.

Angin bermain-main dengan butiran air, membentuk ombak-ombak kecil di udara.

Kurapatkan kancing jaketku. Ya, mungkin karena hujan membawa dingin, maka kita menciptakan sesuatu yang hangat di pikiran kita, di hati kita.

Perlahan-lahan langit berubah merah jambu, seperti warna bibirmu.

Jumat, 29 September 2017

Usai

Aku tahu bahwa tak selamanya senja membawa jingga, karena terkadang ia juga datang bersama hujan.

"Wah, sorenya keren! Oranye!" kataku sambil memandang kaki langit. "Iya, jingga. Aku suka senja seperti ini. Terutama ada kamu di dekatku," katamu melepaskan senyuman manis.

Ya, kau memang lebih suka menggunakan kata-kata yang terdengar puitis di setiap pertemuan kita. Oranye kau katakan jingga, sore kau sebut senja.

Kau begitu mahir merangkai kata-kata indah di setiap hari-hari kita. Bahkan ketika aku tak dapat lagi menemukan kata-kata di akhir September itu, kau masih bisa menghadirkannya dengan terang.

"Usai," katamu dengan bibir bergetar. Lalu terdengar suara langkah kakimu menjauh dan menghilang. Aku diam, berharap jingga senja mampu menahan langkahmu pergi.

Mungkin benar kata para pemujamu, bahwa jantungmu tak hanya mengalirkan darah tapi juga puisi.

Ya, penyair sepertimu memang mampu membangkitkan banyak cinta. Kau memiliki banyak 'kan? Bukan cuma aku? Seharusnya kata usai jangan pernah ada dalam kamus bahasa, supaya kau tak pernah menemukannya dan aku tak pernah mendengarnya.

Aku tahu bahwa tak selamanya senja membawa jingga, karena ia juga terkadang datang bersama hujan.

Dan kuakhiri September tanpa kamu. Juga tanpa jingga yang sangat kau sukai. Hanya aku dan senja, yang datang bersama hujan.

Jumat, 22 September 2017

Herbeth

Waktu berjatuhan seperti daun-daun. Sudah lebih dari sebulan adik saya pergi. Saya kangen adik saya, kengen melihat dia dan ingin ngobrol-ngobrol dengannya.

"Beli kembangnya, Pak," kata saya kepada penjual kembang di depan gerbang komplek kediamannya yang baru.

"Sekalian air mawarnya, Mas?" tanya penjual kembang.

"Nggak usah, Pak," kata saya. Saya hanya ingin menaburkan kembang dan bicara-bicara sedikit dengan adik saya. Penjual kembang itu memberikan sekantung kelopak bunga kepada saya.

Ya, saya hanya ingin menaburkan kembang, lalu bicara-bicara sedikit dengan adik saya. Mungkin tak baik menurut agama, tapi saya sedang kangen adik saya.

Saya masuki komplek makam dengan perih kehilangan yang kembali menyergap, yang membuat kedua mata saya tiba-tiba jadi basah di setiap ayunan langkah yang membawa saya menuju tempat peristirahatan terakhirnya.

Bebarapa anak berseragam sekolah tampak sedang duduk-duduk santai, merokok di bawah pohon rindang di dekat satu makam yang berkeramik bersih. Angin berembus pelan. Sehelai daun jatuh di dekat mereka.

Langkah saya terhenti di depan makam adik saya yang masih berupa gundukan tanah. Saya teringat ketika pertama kali berdiri di depan makam itu, saat peti tempat adik saya tertidur abadi akan diturunkan ke dalam ruang peristirahatannya yang terakhir. Ayah saya ikut memegang tali tambang yang menahan bagian bawah peti itu, menurunkannya pelan-pelan sampai ke dasar peristirahatan terakhir adik saya.

Waktu berjatuhan seperti daun-daun. Ayah saya yang baik itu, yang pada waktu-waktu lalu memegang tali dan kain gendongan, membuat ayunan bayi, supaya anaknya tersayang nyaman dalam lelap tidurnya di setiap malam, sore hari itu kembali memegang tali untuk mengantarkan adik saya, anaknya tersayang, tertidur. Tidur yang selamanya.

"Nggak usah, Pak," kata petugas pemakaman dan saudara-saudara kami meminta tali tambang itu dari tangan ayah, melihat tubuhnya limbung.

"Tidak apa-apa," kata ayah saya membetulkan posisi berdirinya. "Saya ingin mengantarkan anak saya," kata ayah saya lagi. Ia menangis, lalu mengulur tali tambang di tangannya perlahan sambil memandangi peti di mana adik saya berada itu sampai ke dasar makam.


Saya kangen adik saya dan sedang ingin berdua saja. Jadi saya datang seorang diri menjenguknya. Saya duduk di sebelah kiri makamnya. Membaca namanya, tanggal lahir dan tanggal kepergiannya di nisan salib itu. Adikku sayang, kata saya dalam hati, lalu menaburkan kelopak-kelopak bunga ke atas gundukan tanah yang kini menyelimuti tidur tenangnya.

"Kemarin sakit banget ya, No," kata saya sambil menaburkan kembang. Kelopak-kelopak bunga jatuh, begitu juga air dari kedua mata saya.

"Nggak ada yang sakit, cuma lemes doang," jawab adik saya itu, ketika ayah menanyakan bagian mana tubuhnya yang sakit. Makannya juga lahap waktu itu. Ia masih sempat memisahkan dan merapikan makanan-makanan kecil yang disukainya. Lalu ketika ayah saya ingin membantunya ke kamar mandi, ia menolak. "Bisa kok," katanya lalu melangkah ke kamar mandi.

Saya taburkan lagi kelopak-kelopak bunga di atas makamnya.

"Gua baru bikin buku lagi," kata saya, kembali menaburkan kembang. Ucapan dari mulut saya terhenti lagi, digantikan air yang keluar dari mata saya, mendahului kata-kata saya untuknya. "Sayang, lo nggak sempet liat ya..."

Saya sering melihatnya menulis dan menggambar di sebuah buku kosong. Puisi dan gambar-gambar orang. Tulisannya bagus. Kadang ia menulis dalam bahasa inggris. Saya ingin sekali dia menerbitkan tulisan-tulisannya yang selalu tercecer itu.

Di salah satu hari ulang tahunnya, saya pernah menghadiahkan satu buku untuknya. Buku kecil berwarna merah berjudul Mafia Manager. Buku bisnis dan kepemimpinan yang tidak dipenuhi dengan istilah-istilah yang rumit. Enak dibaca. Setiap laki-laki pasti suka membacanya, karena buku itu ditulis berdasarkan pengalaman seorang tokoh mafia. Dan suatu tulisan tentang kejantanan dan trik-trik menyelesaikan masalah ala mafia selalu menarik minat setiap lelaki. Adikku pasti suka, pikir saya ketika membeli buku itu untuknya. Saya tulis satu ucapan selamat ulang tahun untuknya di halaman depan buku itu. Beberapa hari ini saya cari buku itu, tapi belum juga ketemu.

Saya lihat lagi namanya di nisan salib itu. Saya usap pelan namanya, seakan sedang mengusap kepalanya, mengusap pundaknya. Tak ada satu kata pun yang bisa terucap. Saya biarkan air mata saya saja yang bicara. Saya merasa seperti orang cengeng, tapi biar saja, saya sedang kangen adik saya.
"Kangen gua lo ya, No?" tanya saya terisak.

Dulu, saya sering jengkel dan memarahinya karena ia sering tanpa memberi tahu terlebih dahulu, memakai pakaian dan barang-barang kesukaan saya yang memang satu ukuran dengannya. Ketika saya ingin mengenakan pakaian atau sendal atau sepatu yang cocok dan sudah saya siapkan untuk dipakai keluar, ternyata sudah tidak ada di tempatnya, melainkan berada di tempat pakaian kotor. Dia tertawa ketika saya marah. Tentu saja saya tambah jengkel. Dan dia pergi meninggalkan saya.
Tetapi, dia tahu bahwa saya tak bisa terlalu lama marah kepadanya. Lalu ia menawari saya nasi goreng.

Dia memang pintar memasak nasi goreng. Dia adalah andalan kami di rumah ketika ingin menikmati nasi goreng sambil nonton televisi. Lucu sekali rasanya waktu pertama kali memakan nasi goreng buatannya.
"Asinnn..." kata saya. Dia tertawa.

Waktu berjatuhan seperti daun-daun. Tak akan pernah kembali. Saya sering tak terlalu memperhatikan waktu, sebagaimana juga tak memperhatikan daun-daun jatuh, yang berpisah dari rantingnya. Perpisahan datang seperti pencuri. Datang tanpa disangka-sangka. Saya baca lagi namanya pada salib putih di atas makamnya. Hati saya remuk. Mimpi-mimpi saya tentang dan bersamanya musnah sudah. Mimpi saya membaca buku karangannya dan bangga melihatnya berdiri membaca puisi atau mengantarkan sebuah kotbah di atas mimbar harus berhenti sampai di sini.

"Cepet banget lo pergi..." kata saya perih.

Mentari jatuh perlahan di barat. Saya taburkan lagi kelopak-kelopak bunga terakhir yang berada di tangan saya ke tubuh makamnya. Terbayang kembali saat-saat bersama dirinya.

Waktu berjatuhan seperti daun-daun. Waktu yang tak akan pernah kembali, waktu yang merekam begitu banyak kenangan.

"Gua pulang ya, No..." kata saya pamit, mengusap salib putih yang bertuliskan namanya.

Waktu berjatuhan seperti daun-daun. Tawamu kekal dalam ingatan.


Rabu, 30 Agustus 2017

Sejuta Doa

:untuk David

Kucium pelan pipinya di lelap tidurnya
Menanam sejuta doa di kepalanya,
di sela setiap helai rambutnya yang seharum bubuk susu.

"Yang terbaik, selalulah yang terbaik," bisikku mengusap kepalanya.

"Dan di setiap musim yang silih berganti menumbuhkan hujan dan mematangkan matahari, semoga langkah kakimu semakin kuat."

Senin, 10 Juli 2017

Pejaten

tersesat aku
di alis manis itu
keindahan yang sabar menunggu
di dekat rindu matamu

tersesat aku
di alis manis itu
yang membawaku masuk menuju
ke sejuta mimpi di matamu

Minggu, 09 Juli 2017

Ririn

Namanya Ririn. Kulitnya putih bersih. Rambutnya yang hitam kemilau jatuh indah tergerai di bahunya. Mengenakan kacamata, cantik sekali. Dia adalah warga baru di lingkungan tempat tinggal kami. Pertama kali melihatnya, saya langsung menyukainya.

Dia bersekolah di SMA 14 Cililitan, saya di SMA 42 Halim. Itu artinya jika berangkat ke sekolah, ia berjalan menuju ke arah barat, saya  ke arah sebaliknya, ke timur. Tetapi, karena saya ingin bisa dekat dengannya, saya kemudian berjalan menuju ke arah barat mengikutinya.

Pagi hari, saya mandi lebih serius, menyisir rambut lebih serius dan tentunya tidak lupa memakai bedak MBK. Juga dengan serius. Kemudian, pada waktu jam berangkat sekolah, saya menunggunya di jalan depan rumah. Begitu ia terlihat, saya segera mengejarnya dan berjalan di sampingnya. Dia kaget melihat saya. Saya juga jadi kaget melihat wajahnya yang kaget melihat wajah saya.

Dia kemudian mempercepat langkahnya. Saya juga ikut ‘over gigi’, menyamakan kecepatanya berjalan. Lalu saya menyapanya dan bersikap sok kenal sok dekat. Dia diam. Lantas saya berbicara sendiri tidak karuan menahan debar jantung saya karena salah tingkah. Saya bicara terus, yang penting terlihat orang, kami sudah seperti teman yang sudah akrab.

Setelah sekitar 15 menit perjalanan, sesampai di jembatan Mayasari, dia kemudian menyeberang jalan, karena letak sekolahnya memang berada di seberang jalan.

“Sampai besok ya…” kata saya kepadanya. Dia tak menjawab. Saya meneruskan berjalan kaki menuju terminal Cililitan dan kemudian menumpang Trans Halim menuju sekolah. Hari itu saya terlambat masuk ke sekolah.

Keesokan harinya, diiringi kicauan suara burung nan merdu, saya kembali menunggunya di jalan depan rumah. Dia tidak lagi kaget melihat wajah saya seperti kemarin. Tetapi wajahnya nampak sebal, tetap diam dan tetap cantik. Saya masih tetap sok akrab menyapanya dan mengajaknya berbincang-bincang kecil. Dia masih tetap diam.

Di Jembatan Mayasari, kami kembali berpisah. Dia menyeberang jalan dan saya berjalan lurus menuju terminal Cililitan.

“Sampai besok ya…” kata saya. Dia tak menjawab. Hari itu saya terlambat lagi sampai di sekolah.

Keesokan harinya lagi, seperti biasa, saya kembali menantikannya di jalan depan rumah. Agak lama juga sosok cantiknya tak muncul. Setelah sepuluh menit lagi menunggu, dia akhirnya terlihat juga. Tetapi tidak sendiri, dia dibonceng naik motor oleh Ayahnya. Gaswat! Berseragam loreng pula! Saya sembunyi di balik pohon. Burung-burung yang tadinya asyik berkicau berhamburan mencari pohon lain. Saya lihat dia sempat menengok ke arah tempat saya biasa menantikannya. Ah, Ririn, cantik sekali caramu memandang. Rambutnya melambai dimainkan angin.

Hari itu saya tidak berjalan ke arah barat tapi ke timur dan tidak terlambat tiba di sekolah. Tetapi, hari itu otak saya agak lambat menangkap pelajaran.

Malam harinya saya menulis satu surat cinta untuknya. Di atas kertas warna biru muda bergambar hati dan tentu saja wangi. Beberapa kertas yang manis jadi korban dan masuk ke keranjang sampah, sampai akhirnya saya merasa bahwa isi surat saya benar-banar mantap. Tak lupa saya selipkan sebagian syair lagu Iwan Fals yang sering membuat saya teringat dirinya.

Buat apa kau diam saja
Bicaralah agar aku semakin tahu
Warna dirimu duhai permata

Kau mimpiku aku tak bohong
Seperti yang kau kira seperti yang selalu kau duga
Pintaku kau percayalah
Usah ragu

Lalu saya cium surat itu sebelum masuk ke dalam amplop. Kemudian saya titipkan surat cinta untuknya itu kepada kerabatnya yang kebetulan adalah tetangga kami.

Hari demi hari surat cinta saya tak mendapatkan jawaban. Minggu demi minggu hati saya gelisah menantikan jawaban darinya. Sebulan dua bulan saya tetap setia menantikan jawabannya. Akhirnya sampai si cantik Ririn sudah pindah rumah lagi karena harus mengikuti Ayahnya yang bekerja sebagai abdi negara.

Sekarang sudah lebih dari sepuluh tahun, saya tak pernah menerima jawaban dari Ririn. Saya jadi curiga, jangan-jangan surat saya tak pernah sampai ke tangan pujaan hati saya itu. Jangan-jangan kerabatnya itu juga naksir Ririn.

Rin… rindu yang memenuhi dadaku malam ini, berhasilkah menjatuhkan sehelai saja bulu matamu?

Minggu, 02 Juli 2017

Juli

"Pasti sakit sekali rasanya ya..." katanya memandang gores-gores luka pada batang pohon yang tengah kutuliskan kata cinta untuknya.

"Apa cinta juga bisa melukai?" tanyanya lembut. Aku diam menyembunyikan keterkejutanku mendengar pertanyaannya.

"Love you too, dear... Love you more..." ucapnya lembut sambil mencium pipiku setelah membaca goresan yang membentuk kalimat I love you, Juli  pada batang pohon itu.

"Menurutmu, apa cinta bisa melukai?" balik aku bertanya kepadanya.

"Aku tidak tahu... Aku tidak mau..." jawabnya.

"Aku juga..."

"Tapi seandainya ternyata cinta bisa melukai? tanyaku lagi kepadanya

"Aku tidak tahu..." jawabnya pelan, lalu memeluk erat tubuhku.

Pelan kucium keningnya. Dan kami pun terdiam, hanyut dalam hangat pelukan penuh cinta sambil memandang luka pada pohon yang perlahan mulai mengering, yang ia sendiri tak tahu mengapa harus menerimanya.

Senin, 26 Juni 2017

Malam Lebaran

Malam Lebaran. Tak ada bulan di atas kuburan. Tak ada juga di atas PGC. Langit hitam. Mungkin dia sedang bersembunyi di balik hitamnya langit. Atau mungkin dia sedang asyik bersinar di sajak Sitor Situmorang.

Pukul 10 malam. Di lampu merah Cililitan tempat saya terhenti, terlihat lampu-lampu di lantai atas PGC yang sudah dipadamkan. Tak ada bulan di atasnya.

Jalanan macet. Pedagang kaki lima dan orang-orang tumpah ke jalan. Para pedagang berteriak-teriak memanggil pembeli dengan mantra murah dan obral. Orang-orang merubung para pedagang, melihat-lihat dan memilih barang-barang yang ditawarkan.

Lampu lalu lintas berubah hijau. Saya lanjutkan perjalanan yang tersendat-sendat oleh ramainya orang. Di pertigaan jalan menuju rumah, di dekat kuburan, jalan mulai agak lengang. Anak-anak dan remaja berkumpul di pinggir-pinggir jalan dekat mulut gang, memukuli beduk dan drum, melantunkan takbir. Malam yang indah, malam kemenangan. Saya melambaikan tangan kepada beberapa orang yang saya kenal. Mereka balas melambaikan tangan.

Sesampai di rumah, saya nyalakan televisi tetapi tak menontonnya. Saya biarkan televisi bicara sendiri sementara saya membuat kopi.

Malam Lebaran. Televisi bicara sendiri dan saya dengan pikiran saya sendiri. Saya minum kopi pelan-pelan. Buku kumpulan cerpen Umar Kayam memanggil-manggil minta dibaca. Lebaran di Karet, di Karet...

Malam Lebaran. Tak ada bulan di atas kuburan, tak ada juga di atas pohon alpukat di depan rumah. Mungkin dia sedang asyik bersinar di sajak Sitor Situmorang. Televisi masih bicara sendiri dan saya menikmati Malam Lebaran di sekumpulan cerpen.

Is, tokoh cerpen Umar, Lebaran seorang diri. Anak-anaknya merayakan di luar negeri. Mengucapkan selamat lebaran lewat kartu pos. Rani, istri tercinta, sudah tak lagi bersamanya. Monumennya ada di Jeruk Purut walau pun ia inginkan Karet, sebagaimana sajak Chairil Anwar: Di Karet, di Karet tempat kita yang akan datang...

Malam Lebaran. Tak ada bulan di atas kuburan, tak ada juga di atas pohon alpukat. Mungkin dia sedang asyik bersinar di sajaknya Sitor Situmorang. Televisi masih bicara sendiri dan saya tertidur di dalam sebuah cerpen.

Di hari Lebaran, saya ucapkan selamat lebaran kepada Is. Lalu dengan mobil dinas Toyota tua, ia pergi berlebaran ke Karet, ke tempat Rani ingin dimakamkan, dan saya pergi menengok Ibu. Ke TPU Kebon Pala.

Minggu, 18 Juni 2017

Juni

"Hari ini bukuku laku tiga, lumayan bisa buat beli pisang untuk anakku," kata temanku penyair. "Tuhan itu baik ya..." sambungnya lagi.

Aku menganggukkan kepala mengamini ucapannya dalam hati.

"Apa kau akan terus menggantungkan hidupmu sebagai penyair?" tanyaku kepadanya.

Dia diam menarik nafas. "Ini hujannya Sapardi ya?" ucapnya, tak menjawab pertanyaanku, tapi malah mengajak mataku memandang pada hujan.

Hujan yang tipis dan manis, yang berjatuhan lembut di pohon-pohon pisang di hadapan kami, membentuk sungai-sungai kecil yang merambat di daun-daun, batang, hingga ke akarnya.

Hujan yang lembut tapi sepertinya keras kepala karena sudah hampir seharian tak juga mau berhenti.

Sekali lagi aku mengangguk. Dia tersenyum menjawab anggukkanku. Lalu kami berdua terdiam memandangi hujan, membiarkan apa yang tak terucapkan diserap akar pohon pisang itu.

Jumat, 16 Juni 2017

Ikhtiar


Temaram senja
Entah kenapa terlihat sendu
Ramai jalan dipenuhi bunga
Inginkan hari esok yang lebih baik
Marah, menangis, patah
Anak manusia meletakkan kepala di ubin

Kerja telah dijalani
Apa yang terbaik sudah ditanam
Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya
Ikhtiar
Hidup melayani sesama

Ada luka yang ikut tumbuh
Hati semoga tetaplah lembut
Olehnya kita tetap kukuh
Karena mulialah hidup yang bersedia melayani

Rabu, 14 Juni 2017







Waktu Berjatuhan Seperti Daun-Daun
Dieditori oleh Agnes Bemoe, dan diberi pengantar oleh Tengsoe Tjahjono, pendidik yang juga adalah seorang penyair. 

Tebal 130 halaman.
ISBN: 978-602-98618-7-7
Tahun terbit 2017



Selasa, 13 Juni 2017

Haiku

/1/
diguyur hujan
gedung-gedung berbunga
cahaya lampu

/2/
secangkir kopi
pramusaji jelita
matanya bulan

/3/
ada yang manis
memenuhi udara
harum rambutmu

/4/
jalanan basah
lampu-lampu menyala
kamu di mana?

/5/
hujan gerimis
rindu sendat di dada
kepingin kamu

Selasa, 06 Juni 2017

Tak Ada Hujan di Bulan Juni

Hujan tak datang di Bulan Juni
Cuma daun-daun jatuh

"Aku ingin mencium bibirmu..."
"Jangan..." katamu

Aku diam
Kau juga diam

Aku benci bibirku yang selalu menginginkan bibirmu
Apa memang selalu begitu bibir orang-orang yang sedang jatuh cinta?
Tapi kenapa bibirmu tak menginginkan bibirku?

Langit Juni terang dipenuhi bintang
Angin berembus pelan di sela-sela rambutmu
Jari-jariku menyelinap masuk ke jemarimu
Kucium pipimu

Tak ada hujan di bulan juni
Hanya daun-daun yang dijatuhkan angin
Kauremas lembut jemariku
Dan kulihat matamu terpejam