Tampilkan postingan dengan label Agnes Bemoe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agnes Bemoe. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juni 2014

BESAME MUCHO, RIRI

Judul Buku : PEJATEN: Dekat di Hatimu
Penulis : Fidelis R. Situmorang
Cover  : Audy
Penerbit : Penerbit Sinar David
Genre : Novel
Jumlah Halaman : 124 halaman
Tahun Terbit : 1 Juni 2013







Bésame, bésame mucho
Como si fuera esta noche
La última vez


Bésame, bésame mucho
Que tengo miedo a perderte
Perderte después

…

Saya sudah suka lagu itu sejak pertama kali saya dengar dinyanyikan oleh Trio Los Panchos di tahun 70-an sampai dinyanyikan ulang oleh Andrea Bochelli di tahun 2000-an. Awalnya saya tidak mengerti, mengapa saya suka lagu itu. Lama-lama baru saya sadari, irama yang sangat membuai, mendayu-dayu tanpa kecengengan itu membuat saya menikmatinya.

Lalu, apa hubungannya dengan novel “PEJATEN: Dekat di Hatimu”? Sangat dekat. Awalnya saya juga kurang mengerti alur cerita novel ini. Namun, terus terang saya langsung menikmati gaya penceritaannya. Akhirnya, saya malah jatuh hati dengan karya ke-empat dari penulis Fidelis R. Situmorang ini. Jika “Besame Mucho” membuai telinga saya, maka novel ini merangsek masuk ke hati saya lewat kata-katanya.

Seperti juga “Besame Mucho” tema novel “PEJATEN: Dekat di Hatimu” sebenarnya sangat umum. Cinta. Rain dan Riri saling mencintai. Sayang, keduanya tidak bisa saling memiliki. Pergulatan Rain dan Riri inilah yang diurai dalam duapuluh sembilan bab di novel ini. Penulis yang kurang terampil bisa dengan mudahnya terjebak pada klise semata. Untunglah itu tidak terjadi pada novel ini.

Puisi berjudul “Embun” di bagian awal langsung menghentak pembaca dengan kata-kata yang kuat dan dalam.

Embun luruh satu-satu
Di lelap mimpi daun-daun
Di suara hempasan taksi menutup pintu
Di temaram sinar lampu-lampu jalan yang diam melamun
Cinta macam apa yang seperti ini?
Yang tak bisa memiliki dirimu?
Yang mengendap-endap dan menyelinap seperti serangga malam?
Lalu berpisah saat embun-embun mulai jatuh?
…

Saya tercekat membacanya. Saya tak bisa menguraikan alasan logis mengapa. Di lain pihak saya juga tidak ingin imajinasi saya terganggu oleh logika. Saya hanya ingin menikmati. Itu saja. Seperti awalnya saya menikmati “Besame Mucho” tanpa tahu mengapa.

Cerita-cerita selanjutnya mengalir indah sekali, begitu merangsang imajinasi sekaligus begitu membumi. FRS sangat konsisten dengan kemampuannya mengolah kata. Dari kata-kata sederhana tercipta atmosfer yang lembut dan menyentuh. Lima buku FRS yang sudah saya baca, semuanya menawarkan konsistensi kualitas penulisan. Ini membuat saya tidak bosan membaca ulang buku FRS, bahkan menunggu-nunggu buku selanjutnya.

FRS juga sangat konsisten dengan gayanya: romantis, humoris, dan humanis. Jarang sekali saya menemukan penulis yang bisa meramu ketiga sisi ini dengan apik dan pas. Cerita “Mau Jadi Pemain Bola” adalah contohnya. Cerita ini lengkap memotret kemampuan FRS mengangkat sisi romantis sekaligus humanis, tanpa ada kesan salah satu hanya sebagai pelengkap bagi yang lain. Pembaca merasakan ketulusan FRS dalam bercerita. Ini penting, karena beberapa cerita romantis atau humanis tidak jarang jatuh pada cerita cengeng dan memuakkan.  Ketrampilan FRS inilah yang membuat saya betah menelusuri kisah cinta Rain dan Riri dari halaman pertama sampai halaman penghabisan.

Hanya saja, harus saya akui bahwa ada beberapa bagiannya yang membuat saya kurang mengerti. Kelegaan Pendeta Guntur setelah membaca surat putus dari Riri membuat saya bingung. Bukan, bukan karena posisinya sebagai pendeta. Sebagai seorang biasa pun hal ini tetap membingungkan saya. Okelah Riri diam-diam menjalin hubungan dengan Rain. Namun toh akhirnya ia mengakui dan menentukan pilihan.

Terus terang, pengungkapan bahwa Pendeta Guntur ternyata juga diam-diam menjalin hubungan dengan gadis lain dan bahkan menganggap itu adalah “doa yang terjawab” membuat saya terguncang.

Hal lain yang kurang saya mengerti adalah cover. Cover menampilkan seorang gadis manis tersenyum ceria sedang duduk di antara dua kursi. Kesan yang saya tangkap, novel ini akan berisi semacam chick-lit. Padahal isinya tidak persis seperti itu. Namun demikian, saya yakin, ini lebih karena kekurang pengatahuan saya tentang seni grafis.

Di luar itu semua, “PEJATEN: Dekat di Hatimu” adalah novel yang luar biasa nikmat. Membuat kita ingin dekat dengan orang yang kita kasihi. Sama seperti lagu “Besame Mucho” yang sangat dekat di hati saya.



Quiero tenerte muy cerca
Mirarme en tus ojos
Verte junto a mi
Piensa que tal ves mañana
Yo ya estaré lejos
Muy lejos de ti
…

***

Pekanbaru, 7 April 2014

Agnes Bemoe



Dimuat di Tabloid Solafide Edisi 03 Mei 2014

Resensi yang sama bisa dibaca di: http://www.agnesbemoe.blogspot.com/2014/04/book-through-my-eyes-btme-besame-mucho.html

Jumat, 25 Oktober 2013

Mencicipi Remah-Remah Fidelis


Mungkin Fidelis sedang ingin berendah hati ketika ia menamai kumpulan puisinya dengan “Remah-Remah Kehidupan”. Kalau diandaikan “remah-remah” adalah sesuatu yang terbuang, sisa, alias tidak berharga maka tidak demikian dengan kumpulan puisinya ini. Ketika membacanya saya merasakan kenikmatan yang lebih dari sekedar makan remah-remah roti.

Namun demikian, saya mencoba memahami makna remah-remah di sini seperti makan remah-remah sungguhan. Rasanya kita belum lupa enaknya menjumput remah-remah roti atau nasi dan memakannya ketika kita masih kecil. Entah kenapa yang sudah tercecer itu kok terasa begitu nikmat. Dalam konteks itulah saya mencoba memahami puisi-puisi Fidelis ini.

Kumpulan puisi “Remah-Remah Kehidupan” sendiri berisi 57 puisi yang terbagi dalam tiga bagian dan memiliki tema besar  sama: cinta.

Puisi-puisi cinta Fidelis khususnya di bagian pertama membuat saya mabuk kepayang. Bagaimana tidak, puisi-puisinya begitu manis dan mengalir romantis. Sulit saya ungkapkan, tetapi begitu membacanya, saya bisa merasakan kehalusan cinta dari puisi-puisi ini. Puisi-puisi ini begitu menyentuh seolah-olah dituliskan khusus untuk saya yang sedang membacanya.

Yang membuat saya betah mengunyah puisi-puisi itu ialah karena mereka jauh dari kesan nge-gombal. Fidelis dengan sangat pas menggunakan kata-kata sehari-hari yang langsung terasa dan tertangkap. Fidelis mengisinya dengan kehalusan rasa dan ketulusan. Saya rasa kejeniusannya terletak pada kemampuan untuk menggunakan kata-kata yang “biasa” menjadi dalam bermakna serta menjaga agar puisi cinta ini tidak jatuh pada barisan rayuan gombal semata. Perhatikan yang satu ini:

Ubud

Di tepi sungai Petanu
Kuselipkan setangkai puisi di rambutmu

Dan alam semesta hening terpukau
Karena indahmu

Remah-remah Fidelis ternyata tidak hanya manis dan romantis, tetapi juga humoris. Perhatikan cuplikan dari puisi “Aku Mencintaimu Sampai Terngantuk-ngantuk”:
…
Orang bilang setelah memiliki anak, cinta pasangan akan
Lebih besar kepada anak
Tapi bagiku Tidak!!!
Walaupun tubuhmu sekarang makin dihiasi lemak
Cintaku padamu bertambah banyak


Mungkin juga remah-remah Fidelis adalah keberserakan bentuk puisinya. Perhatikan bahwa ada puisi yang begitu pendeknya yang hanya berisi dua baris (“Oktober” atau “Kenangan Masa Kecil”), namun ada juga yang panjang, seolah-olah bercerita (“Kepada Batsyeba, Istriku” atau “Mati”, misalnya). Mengenai beberapa puisi yang panjang ini terkadang saya merasa sedang membaca sebuah cerpen atau cermin dan bukannya sebuah puisi.

Remah-remahnya Fidelis juga bermakna keberserakan arti cinta di dalamnya. Cinta tidak melulu milik dua insan yang sedang mabuk kepayang. Remah cinta itu menjangkau sampai kepada cinta dalam keluarga dan cinta dalam kehidupan sosial di masyarakat. Ambil contoh “Les Photos de Papa” yang begitu menyentuh, mengingatkan kita akan cinta seorang ayah. Puisi ini mewakili cinta dalam keluarga –orang tua pada anak dan sebaliknya-. Sementara puisi “Gadis Kecil di Lampu Merah” menyentil rasa cinta kita pada mereka yang terpinggirkan dan hanya jadi mainan politik para penguasa.
Dan walaupun tidak banyak, remah-remahnya Fidelis menyentuh juga hubungan intimnya dengan Tuhannya. Lihat saja di puisi “Terima Kasih, Tuhan” yang diletakkan di bagian paling akhir:

Terima Kasih, Tuhan

Tuhan, Semalam aku diam-diam membuka dompetMu,
Aku senang,
Ada fotoku di situ

Terima kasih, Tuhan…
I love You


Sayangnya jumlah antara  puisi-puisi cinta untuk keluarga atau masyarakat atau Tuhan tidak sebanyak puisi cinta untuk kekasih. Tetapi, mungkin di situlah maksudnya “remah-remah”. Apa asyiknya mencomoti remah-remah bila mereka teratur dan tersusun rapi? Semakin berserak mungkin semakin asyik kita memburunya.

Akhirnya, menikmati remah-remah puisi Fidelis sungguh membuat saya “kenyang”.  Terkadang saya berhenti dan mengulangi lagi membaca puisi yang sama. Saya ingin merasakan kembali sensasi dari kehalusan puisi tersebut. Bila dilihat dari efeknya terhadap saya sebagai pembaca, remah-remah Fidelis adalah setara dengan makan nasi padang dari RM “Pak Datuk”.  (db)


Pekanbaru, 30 Juli 2011
 

Agnes Bemoe, Penulis.