Kamis, 22 April 2010

Boleh Aku Memanggilmu dengan Kata Sayang?

Semoga kita selalu dalam perlindungan Tuhan.



Hai, Pemuda yang baik. Apa kabar? Mungkin kamu terkejut menerima surat ini. Iya, ini aku, putrinya Yefta. Aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk bisa menulis surat yang sekarang ini ada di tanganmu.


Seperti yang juga kamu ketahui, hidupku tidak akan lama lagi. Semakin dekat akhir hidupku, semakin aku merasakan ketakutan dan kesedihan yang teramat sangat. Sering aku tak percaya bahwa hal ini akan terjadi kepada diriku. Setiap hari aku berharap semoga semuanya ini hanya mimpi belaka.



Selama hampir dua bulan di pegunungan ini, sahabat-sahabatku mencoba untuk menghiburku dengan berbagai cara. Mereka bernyanyi, memainkan rebana dan menari, juga menceritakan banyak hal-hal yang lucu untuk bisa membuat aku tertawa. Tapi setiap aku melihat ke dalam mata mereka, terlihat jelas pandangan iba mereka terhadapku. Mereka berusaha untuk menyembunyikannya di balik senyum mereka. Tapi aku tetap dapat melihat dan merasakan bahwa mereka jatuh kasihan kepadaku. Ya, mungkin karena mereka sangat menyanyangiku. Sungguh beruntung aku memiliki sahabat-sahabat seperti mereka.


Dari semua yang mereka lakukan untukku dan dari semua yang mereka ceritakan kepadaku, yang paling aku sukai adalah ketika mereka bercerita tentang kamu. Aku senang mendengar cerita tentang kamu dan segala hal tentang dirimu. Sering aku meminta mereka untuk menceritakannya kembali. Ada suatu perasaan yang sangat aneh tapi begitu menyenangkan kalau aku mendengar cerita tentang kamu.



Aku teringat kembali ketika pertama kali aku bertemu kamu. Kamu begitu sopan, memiliki tatapan mata yang lembut dan senyum yang sangat ramah. Aku sungguh menyukainya. Itu semua membuat aku sering berharap supaya setiap hari bisa bertemu denganmu. Apakah waktu itu kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan...?



Dan ketika salah seorang temanku meyampaikan salam darimu untukku, Sungguh aku merasakan kesenangan yang luar biasa, sesuatu perasaan dan gairah aneh yang tidak pernah kurasakan namun sungguh sangat menyukakan hatiku.



Kamu tahu...? Sejak saat itu aku mulai sering berhayal seandainya engkau adalah kekasihku. Sungguh sangat menyenangkan menjadi kekasih dari seorang yang baik dan tampan seperti kamu. Setiap pulang berlatih rebana aku memilih jalan pulang yang melewati rumahmu, walaupun sebenarnya itu lebih jauh untuk sampai ke rumahku. Atau aku pura-pura tertinggal sesuatu di tempat latihan, supaya bisa sekali lagi melewati rumahmu. berharap bisa melihat kamu dan mendengar suaramu memanggil namaku.


Entah kenapa aku menceritakan semua ini kepadamu. Mungkin karena hidupku tidak akan lama lagi. Rasanya ingin memiliki seorang kekasih sebelum hidupku ini berakhir. Walaupun aku nantinya akan dikenang sebagai gadis yang tidak pernah "kenal" laki-laki.

Oh, ya... Boleh aku memanggilmu dengan sebutan Sayang...? Boleh ya...



Sayang,

Akhir dari kehidupan adalah misteri bagi setiap orang. Mereka tidak tahu kapan dan bagaimana hidupnya akan berakhir. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Aku tahu kapan hidupku akan berakhir, dan bagaimana hidupku akan berakhir. Bagiku ini terasa sangat menyedihkan sekaligus menakutkan. Aku tidak tahu harus mengatakan apa tentang hal ini. Aku juga tak tahu apakah aku harus membenci ayahku yang menyebabkan aku harus mengalami hal ini, padahal aku sangat menyanyanginya. Atau mungkin Tuhan sangat menyanyangiku hingga ia ingin aku segera tinggal di dalam rumahnya. Tapi yang jelas aku sangat takut menghadapi ini semua. Jantungku sering berdebar kencang dan perutku sering terasa mual karenanya.


Sayang,

Berdoalah untukku supaya aku diberi kekuatan untuk menghadapi ini semua. Sungguh akhir-akhir ini aku ingin kamu ada di sini untuk menemaniku. Menemaniku sebagai seorang kekasih yang memberikan pelukan perlindungan yang hangat ketika rasa takut itu datang. Agar aku bisa membenamkan wajahku di dadamu sampai aku dapat tertidur dengan tenang.


Sayang,

Bukankah Allah yang memiliki hidup? Jika sekiranya Ia mengijinkan aku hidup lebih lama lagi, aku ingin hanya dirimulah yang menemaniku di seluruh masa hidupku. Tapi jika tidak, aku ingin wajahmu ada dekat di mataku supaya aku bisa membawa gambar wajahmu saat memasuki rumah Tuhan.



Sudah dulu ya, sayang. Aku bersyukur mampu menuliskan surat ini kepadamu. Sungguh suatu anugerah kalau aku ternyata bisa merasakan jatuh cinta kepadamu di saat seperti ini.




NB : Aku titip ayah ya... Anggaplah dia sebagai orang tuamu sendiri.




Catatan :

* Yefta adalah orang Gilead yang memerintah sebagai hakim atas orang Israel. Ketika Menjadi Panglima perang, ia bernazar kepada Tuhan, jika ia memenangkan peperangan melawan Bani Amon, maka apa yang keluar dari pintu rumahnya ketika ia pulang berperang akan diserahkan kepada Tuhan sebagai korban bakaran.

** Ketika Yefta pulang ke rumahnya, putri tunggalnyanya keluar menyambut dia dengan memukul rebana dan tarian. (Hakim-Hakim 11 : 34)

*** Yefta melakukan apa yang dinazarkannya.

Rabu, 02 Desember 2009

Selamanya Kamu

Mungkin sebaiknya aku melupakannya. Inilah jalan yang terbaik bagi kami berdua. Maria pasti lebih mencintai lelaki itu, hingga ia rela menyerahkan kesuciannya. Siapa gerangan lelaki sialan yang bisa merebut hati tunanganku itu? Sungguh beruntung ia mendapatkan cinta yang penuh dari tunanganku.

Tak pernah aku menyangka bahwa impianku untuk hidup bersamanya akan berakhir seperti ini. Aku mencintainya dengan sepenuh jiwaku, bahkan melebihi diriku sendiri. Aku bersedia melakukan apa saja untuk menyenangkan hatinya. Sungguh, hanya dia yang kuinginkan dalam hidup ini. Perempuan yang akan menjadi ibu dari anak-anakku dan akan menemaniku menjalani hidup ini selamanya, tak akan pernah berpisah, sampai akhirnya maut nanti memisahkan kami.

Maria, tunanganku itu, dia sungguh indah. Rambutnya, matanya, senyumnya, cara dia bertutur kata, cara dia berjalan, semuanya sungguh indah. Keseluruhan dirinya memang teramat indah. Aku percaya bahwa Tuhan menciptakan segala hal yang indah di bumi ini. Tapi aku yakin, bahwa ciptaanNya yang terindah di bumi ini adalah Maria, tunanganku. Di setiap pertemuan kami dia selalu berkata lembut kepadaku, " Yusuf, selamanya kamu dalam hatiku."

Tapi makhluk indah itu ternyata bukan lagi milikku. Dia mencintai lelaki lain selain diriku. Seperti mau mati rasanya mengetahui semua ini. Ternyata begini rasanya sakit dikhianati. sakit sedihnya begitu terasa menyiksa. Seperti ada ribuan paku yang tertancap di jantungku. Entah mengapa hal buruk ini menimpa diriku.

Sungguh menyakitkan jika teringat kembali pertemuan kami yang terakhir. Kami bersenda gurau dan membicarakan banyak hal-hal yang indah yang kami senangi. Setelah berbicara banyak hal termasuk pernikahan kami, Maria berkata dengan wajah yang sangat serius.

"Yusuf, aku ingin bicara"

"Kan kita sudah bicara dari tadi," sahutku bercanda.

"Sayang, aku serius..."

"Iya, sayang... Ngomong aja..."

"Sayang, aku hamil..."

"Ha ha ha... Ada-ada saja kamu..."

"Betul, sayang, aku hamil"

"Maria, gurauanmu ini tidak lucu! Aku tidak pernah menyentuhmu...!"

"Sayang, tolong dengarkan aku ya..." Lalu dia menggenggam tanganku. Ia menceritakan tentang kehamilannya dan peristiwa ajaib yang menyertai kehamilannya. Aku terkejut mendengarkan ceritanya. Terkejut karena ia menganggapku seperti anak kecil yang bisa dibohongi oleh dongeng-dongeng mengesankan tentang peristiwa-peristiwa ajaib.

Aku diam mendengar ceritanya. Aku tidak percaya. Pasti ada lelaki lain dalam hidupnya. Semua ceritanya terdengar sangat memuakkan, seperti alasan bodoh yang di cari-cari untuk membela dirinya. Aku diam saja walaupun ada rasa sakit yang teramat sangat mendengar semua itu.

"Siapa lelaki itu?" tanyaku setengah membentak.

"Tidak ada, Yusuf... Tidak ada... Hanya kamu seorang dalam hatiku."

Tiba-tiba aku merasa jijik berada di dekatnya. Kuhempaskan genggaman tangannya. Dia menangis dan berusaha mengapai kembali tanganku. Aku membalikkan tubuhku dan pergi meninggalkannya. Terdengar lirih dia memanggilku, "Yusuf, selamanya kamu dalam hatiku..." Ah...Kalimat indah itu terdengar sangat menyedihkan bagiku. Aku pura-pura tidak mendengarnya dan meneruskan langkahku menjauhinya.



Mungkin sebaiknya aku melupakan dia. Inilah jalan yang terbaik bagi kami berdua. Dia pasti hidup lebih bahagia dengan lelaki itu. Semoga mereka berbahagia sampai maut memisahkan mereka. Dan semoga aku bisa memulai kehidupan ini kembali tanpa dirinya.



Cat :

*Ketika Yusuf mempertimbangkan untuk memutuskan pertunangannya dengan Maria, Malaikat Tuhan datang kepadanya melalui mimpi dan berkata bahwa anak dalam kandungan Maria adalah dari Roh Kudus

**Yusuf dan Maria akhirnya menikah, dan memberikan nama Yesus bagi bayi mereka.