"Kenapa kau murung?" tanyaku pada seorang kawan yang berwajah mendung.
"Sudah seharian aku mencarinya, tapi tak juga ketemu..." jawabnya sedih.
"Siapa? Kekasihmukah?"
"Bukan, tapi masa kecilku."
"Coba kau temui dia di album foto lamamu."
"Sudah tidak ada lagi, album itu sudah dibawa pergi oleh banjir tahun lalu."
"Nanti,
kalau kau bertemu dia, tolong sampaikan padanya, aku ingin mengajaknya
bermain hujan..." katanya dengan mata penuh harap.
Lalu di
senja matanya, kulihat waktu berjalan tergesa setengah berlari, dan
seorang anak kecil sedang asyik mengumpulkan gerimis di kedua telapak
tangannya.
Jumat, 02 Maret 2012
Rabu, 08 Februari 2012
Suara Burung
Sudah sejak tahun baru kemarin aku berusaha keras untuk bisa mengerti bahasa burung.
Sungguh penasaran dengan apa yang mereka kicaukan setiap pagi.
Lalu waktu pagi masih buta, kubuka lebar jendela kamar dan berkonsentrasi mendengarkan kicau mereka.
Dari antara ranting pohon terdengar suara, "setiap orang harus tahu bahwa dirinya dicintai."
Busyet! Apa benar itu suara burung?
Kukeluarkan kepala dari jendela untuk memastikan bahwa itu adalah suara burung-burung di pohon
Lalu terdengar lagi suara, "setiap orang harus tahu bahwa dirinya dicintai.
Benar. Suara burung. Wih, keren nih! Ternyata aku sudah bisa mengerti bahasa burung.
Saking girangnya, aku berteriak keras, "cuit cuit... Cuit cuit...!!!
Astaga! Kok suaraku jadi mirip suara burung?
Kucoba teriak sekali lagi. "Cuit cuit... Cuit cuit!
Gaswat! Ini benar suara burung.
Tiba-tiba aku merasa sangat takut dan segera menutup jendela kamar.
Lalu menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.
Tak lama kemudian, aku merasakan tubuhku diguncang-guncang oleh seseorang.
"Sarimin, bangun, Min. Kamu harus pergi ke Carefour!
Ha? Ternyata cuma mimpi. Syukurlah.
Lalu kuceritakan mimpiku tadi kepada kawan yang membangunkanku
"Ah, ngarang aja lo!" katanya. Tapi sudut matanya mengalirkan sungai kecil ke kedua pipinya.
Sungguh penasaran dengan apa yang mereka kicaukan setiap pagi.
Lalu waktu pagi masih buta, kubuka lebar jendela kamar dan berkonsentrasi mendengarkan kicau mereka.
Dari antara ranting pohon terdengar suara, "setiap orang harus tahu bahwa dirinya dicintai."
Busyet! Apa benar itu suara burung?
Kukeluarkan kepala dari jendela untuk memastikan bahwa itu adalah suara burung-burung di pohon
Lalu terdengar lagi suara, "setiap orang harus tahu bahwa dirinya dicintai.
Benar. Suara burung. Wih, keren nih! Ternyata aku sudah bisa mengerti bahasa burung.
Saking girangnya, aku berteriak keras, "cuit cuit... Cuit cuit...!!!
Astaga! Kok suaraku jadi mirip suara burung?
Kucoba teriak sekali lagi. "Cuit cuit... Cuit cuit!
Gaswat! Ini benar suara burung.
Tiba-tiba aku merasa sangat takut dan segera menutup jendela kamar.
Lalu menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.
Tak lama kemudian, aku merasakan tubuhku diguncang-guncang oleh seseorang.
"Sarimin, bangun, Min. Kamu harus pergi ke Carefour!
Ha? Ternyata cuma mimpi. Syukurlah.
Lalu kuceritakan mimpiku tadi kepada kawan yang membangunkanku
"Ah, ngarang aja lo!" katanya. Tapi sudut matanya mengalirkan sungai kecil ke kedua pipinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
