Kamis, 21 Maret 2024
Sekerat Catatan "Pulang"
Kamis, 25 Februari 2021
Di Muka Gereja
Ada penyair masuk gereja
Setelah bertahun-tahun hanya lewat
Tumben, kata seorang teman
Si penyair nyengir kuda
Pasti mau minta sesuatu sama Tuhan,
kata temannya
Si penyair mengangguk
Lalu masuk ke dalam hening
Minta apa tadi sama Tuhan?
tanya temannya, setelah selesai ibadah
Minta kesembuhan, jawab si penyair
Kau sakit?
si penyair mengangguk
kenapa tak ke dokter?
Sudah. Tapi dokter sepertinya terlalu sibuk
Sibuk apa?
Sibuk menyembuhkan orang-orang
Kau sendiri, minta apa pada Tuhan?
Si penyair balik bertanya
Temannya nyengir, garuk-garuk kepala
Si penyair ikut nyengir
lalu berkata: Jadilah kepadamu menurut imanmu
Temannya mengagguk, mengucap kata amin
Si penyair lalu pamit
Langit suram
Di warung di muka gereja, dua orang anak kecil sedang asik makan coklat sambil bernyanyi:
Ku 'kan berdiri di tengah badai
Dengan kekuatan yang Kau berikan
Sampai kapan pun
Ku 'kan bertahan....
Teman si penyair termenung
Mengingat mimpi yang tak kunjung nyata
Padahal ia rajin ke gereja dan berdoa
Teh botol satu, Bu, pintanya kepada pemilik warung
Ia tenangkan gelisah hatinya dengan teh dingin
Manis seperti kasih Tuhan,
katanya kepada ibu warung
Ibu warung tertawa
Hujan rintik-rintik
Anak-anak kecil yang tadi bernyanyi di muka warung
berlarian masuk ke halaman gereja
Teman si penyair masih duduk termenung
Mengingat mimpi yang tak juga nyata
Mungkin enak hidup seperti si penyair
ucapnya dalam hati
Datang kepada Tuhan hanya di saat butuh
Gak pulang bareng si penyair?
tanya ibu warung
Enggak, Bu. Si penyair buru-buru
Tumben dia masuk gereja?
Dia lagi sakit, Bu
Oh... Dia datang ke tempat yang benar
Tempat orang sakit adalah rumah sakit, kata teman si penyair
Tapi rumah sakit terlalu sibuk,
sahut ibu warung
Sibuk apa?
Sibuk menyembuhkan orang-orang
Hujan rintik-rintik
Teman si penyair memandangi langit kelabu
Apa Tuhan tak pernah sibuk?
Dia selalu punya waktu, jawab ibu warung
Kita yang selalu ingin buru-buru
Teman si penyair terdiam
Mengingat mimpinya
yang tak kunjung nyata
Jumat, 02 Agustus 2019
seperti ada suaramu
seperti ada suaramu
di antara resah angin
sehelai daun jatuh di kakiku
Rambutnya udah kepanjangan, tuh!
Aku nyengir memberi alasan
Telat mulu jemputnya sih?
Aku nyengir mencari alasan
Merokok melulu sih...
Aku diam. Lalu nyengir
Dibilangin malah nyengir! katamu cemberut
Cerewet, kataku dalam hati
Lalu kuajak kau berjalan-jalan memutari taman. Apa kau tahu bagaimana rasanya jadi pohon? tanyaku
Kau tertawa lalu memukulku pelan. Ada-ada aja kamu, katamu di antara derai tawa. Kurangin merokoknya ya, katamu lagi
Kepalaku jadi pusing. Bukannya mesra-mesraan, tapi malah sering ribut. Untuk hal-hal yang tak penting.
Aku penasaran, bagaimana rasanya jadi pohon, kataku lagi
Dasar sinting! katamu kembali tertawa
angin berembus pelan
seperti ada suaramu
di antara desah angin
Sehelai daun jatuh lagi di kakiku
*****
Bagaimana? Kamu sudah tahu bagaimana kira-kira rasanya jadi pohon?
Aku menggeleng pelan, tersenyum menatap matamu
Lihat! katamu, menunjuk ke arah sehelai daun yang melayang jatuh. Bagaimana itu rasanya ya? katamu lagi
Kita berdua terdiam seperti terkena sihir daun jatuh
Angin berembus pelan, menyeret daun yang baru saja jatuh di aspal
Hmm...
Kau mengelus-elus lembut kepalaku dan menatap kedua mataku
Kenapa? tanyaku
Enggak apa-apa, jawabmu tersenyum. Kupikir kamu sudah tahu bagaimana rasanya jadi pohon, katamu sambil melepaskan tanganmu dari kepalaku
Aku tertawa, lalu menarik pelan tanganmu, meletakkan kembali ke atas kepalaku. Kupandu jari jemarimu yang halus itu mengelus-elus kepalaku
Dasar pohon manja! katamu setengah tertawa
Kalau kamu, apa kamu pernah ingin jadi sesuatu yang lain? tanyaku kepadamu
Kau mengangguk
Ingin jadi apa?
Aku ingin menjadi matamu
Ahahaha... Kenapa?
Supaya aku bisa melihat apa yang kamu lihat
Uhuk uhuk uhuk
Tuh kan batuk-batuk lagi. Makanya jangan merokok terus!.Kaulepaskan tanganmu dari kepalaku
Sinar mentari senja mendadak jadi terasa panas
Lalu kita berdua hanya terdiam memandangi daun-daun jatuh
Aku tak ingin jadi pohon, kataku memecah kesunyian
Supaya aku tak bisa menjadi matamu?
Sunyi kembali menyergap
Rokok rokok rokok, tiba-tiba terdengar suara pedagang rokok asongan memecah kesunyian
Sialan, kataku dalam hati. Enggak, Pak, kataku melambaikan tangan ke pedagang rokok
Suasana menjadi hening kembali
Tiba-tiba kau tertawa. Aku bingung, tetapi juga ikut tertawa. Aku selalu senang mendengar tawamu yang berderai-derai itu
*****
bodoh kan?
lagi-lagi aku datang ke sini
duduk di tempat yang sama
hanya melihat daun-daun jatuh
Hidup ini sekedar mampir lihat-lihat, katamu waktu itu. Apa yang kita lakukan hanya untuk melihat-lihat. Kita ke taman, ke gunung, ke kota orang, keliling dunia... berbaris dalam antrean, menyiapkan segala hal, menyisihkan waktu dan uang, akhirnya hanya untuk melihat-lihat.
Hmm
Begitu kan?
Hmm
Apa arti hmm-mu itu?
Aku menyimak, jawabku cepat
Hmm
Sekarang kamu yang hmm
Ketularan kamu
bodoh kan?
lagi-lagi aku datang ke sini
duduk di tempat yang sama
padahal tak ada dirimu di sini
Ingat waktu ke sea world kemarin? tanyamu waktu itu
Aku mengangguk
Kita ngapain? Cuma lihat-lihat ikan 'kan?
Iya, jawabku
Dan kamu terlambat menjemputku
Mulai lagi deh, kataku dalam hati
Kenapa sih kamu selalu telat setiap kita janjian?
Macet, jawabku seperti biasanya
Kenapa macet terus sih? Memang ada apa di jalan? Kamu lihat-lihat apa? Liatin cewek ya?
Kutatap wajahnya. Alisnya, matanya, hidungnya, mulutnya. Entah kenapa
mulutnya jadi terlihat seperti mulut ikan. Tak berhenti bergerak
Kok malah lihatin bibirku?
Pengen kucium, jawabku pelan
Supaya aku diam?
bodoh kan?
lagi-lagi aku datang ke sini
duduk di tempat yang sama
tertawa sendiri
mengingat tengkar-tengkar kecil kita
Sehelai daun jatuh di pundakmu. Kuraih dan kutunjukkan padamu
Mana yang lebih sedih? tanyaku waktu itu
Daun yang terlepas dari pohonnya, atau pohon yang melepaskan daunnya?
Bibirmu terlihat manis menahan tawa
Mana aku tahu, jawabmu. Kan kamu yang ingin jadi pohon?
Aku tertawa, merasa bodoh sendiri
Kalau menurut kamu? Kau balik bertanya
Aku juga tak tahu, jawabku
Kulepaskan daun itu. Jatuh untuk kedua kalinya. Ke tanah
bodoh kan?
lagi-lagi aku datang ke sini
duduk di tempat yang sama
melihat daun-daun jatuh
padahal tak ada dirimu di sini
Mana lebih sedih, tanyaku kepada sehelai daun jatuh. Dirimu atau pohon itu?
Mana lebih sedih, kata daun itu balik bertanya kepadaku, dirimu atau kekasihmu itu, saat kalian saling melepaskan?
bodoh kan?
lagi-lagi aku datang ke sini
duduk di tempat yang sama
bertanya kepada sehelai daun jatuh
angin berembus pelan
seperti ada suaramu
di antara resah angin
Selasa, 30 Juli 2019
Kuda Lumping Baca Puisi
kata-katanya tajam seperti beling
penonton kecewa
mereka tak ingin puisi
mereka hanya ingin lihat
kuda lumping makan beling
ayo makan beling! teriak seorang penonton
iya. ayo makan beling! sahut yang lain
tapi si kuda lumping tetap baca puisi
penonton mulai dongkol
kuda lumping dilempari sendal dan botol
kuda lumping ngeles sambil senyum-senyum
penonton gusar
melihat kuda lumping jaman now
bukannya makan beling
malah baca puisi
ayo kita bubar! teriak seorang penonton
iya. ayo kita bubar! teriak yang lain
kuda lumping tak peduli
ia tetap baca puisi
penonton bubar sambil bersungut-sungut
seorang penonton mendekat ke kuda lumping
sambil nyengir kuda, ia pungut sendal yang tadi dilemparnya
memakainya, lalu buru-buru pergi
di sebuah warung dekat lapangan
seorang penyair sedang asik ngopi sambil makan beling
ibu pemilik warung pingsan
Senin, 19 November 2018
Tersesat dan Berlupa
Tulisan "Selma" yang terpampang di muka toko memberi imajinasi tentang perempuan cantik dari Timur Tengah. Ingatan saya sampai kepada Selma Karamy dalam buku Sayap- Sayap Patah, Khalil Gibran. Perempuan yang pernah memenuhi hati Gibran dengan segala cinta.
Saya berkeliling melihat produk-produk yang dipajang. Pramuniaga yang tadi menyapa saya di pintu masuk, menghampiri saya dan menjelaskan setiap detil dari produk yang saya sentuh.
Kok barang-barangnya mirip barang Informa dan Ace Hardware, Mas? tanya saya.
Iya, Pak. Kita dengan Informa sama, Pak.
Dengan Ace Hardware juga?
Iya, Pak.
Oh, Kawan Lama ya...
Dia mengangguk.
Jual tools juga?
Saat ini belum, Pak, jawabnya.
Ditemaninya berkeliling, kemudian saya membeli beberapa barang yang tidak saya benar-benar butuhkan Ahahaha... Maksud saya, tadinya saya tak tahu bahwa saya perlu barang itu, tapi kemudian pramuniaga yang ramah itu berhasil membuat saya mengenal nilai lebih produk-produk yang ditawarkan dan membuat saya kemudian menyukai dan membelinya. Kadang kita membeli bukan karena benar-benar butuh, kan? Tetapi ada banyak alasan lain mengapa kemudian kita memutuskan untuk membeli sesuatu.
Waktunya ngopi! kata saya dalam hati, setelah selesai membayar di kasir. Saya turun ke lantai dasar mencari kedai kopi. Saya lupa menanyakan nama pramuniaga keren itu. Besok-besok saya akan kembali lagi dan menanyakan namanya, lalu mengucapkan terima kasih dengan menyebutkan namanya. Orang bijak pernah berkata, suara yang paling indah didengar adalah bunyi suara ketika nama kita disebut. Setiap keramahan memang selalu saja mampu mengajak kita kembali.
Mentari terbenam di balik gedung tinggi. Kopi panas tersaji di hadapan saya. Saya buka showcase cooler kedai kopi, mencari air mineral sambil menunggu kopi bisa dinikmati. Ketika saya menutup showcase cooler, saya baru ngeh bahwa di bagian kanan depan kedai kopi ada booth es krim Campina. Ada suatu perasaan hangat yang tiba-tiba melesat keluar. Kenangan masa kecil melompat-lompat di udara. Mulut saya secara otomatis menyanyikan satu lirik lagu. Add something nice... Add a special moment to everyday.
Ah, Masa Kecil... kata saya dalam hati lalu berjalan ke arah booth es krim Campina dan memesan satu cup rasa coklat, membeli kenangan masa kecil. Lalu saya duduk dan merayakan masa kecil seorang diri.
Add a special moment right now. Add something nice, add a special moment to everyday...
Saya menikmati es krim seperti seorang anak kecil. Seperti apa yang ditulis Hartojo Andangdjaja dalam sebuah puisi:
Apa salahnya, sesekali kita berlupa
sesekali kita kembali jadi bocah manja
tidak tahu bencana yang bakal tiba
tidak sempat berpikir tentang dosa
Minggu, 03 Juni 2018
Tak Ada Hujan di Bulan Juni
Aku benci bibirku yang selalu menginginkan bibirmu. Apa memang begitu bibir orang yang sedang jatuh cinta? Tapi kenapa bibirmu tak menginginkan bibirku?
Langit Juni bersinar terang dipenuhi bintang. Angin berhembus pelan di sela-sela harum rambutmu. Jari-jariku masuk menyelinap ke jemarimu. Kucium pipimu.
Tak ada hujan di Bulan Juni, hanya daun-daun jatuh ditiup angin. Kauremas lembut jemariku, dan kulihat matamu terpejam.
Selasa, 09 Januari 2018
Presiden Datang dan Pergi
Pergantian kekuasaan sebagaimana telah diatur oleh konstitusi, seharusnya bertujuan untuk kesejahteraan rakyatnya, bukan malah membuat rakyat terpecah-belah, membuat rakyat saling menyimpan benci karena perbedaan. Apalagi anak-anak harus tetap sekolah, tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.
Setiap warga negara berhak jadi pemimpin. Ingatlah, bahwa apa yang menjadikan Douwes Dekker, Shihab, Tan, De Fretes, Panjaitan, Robert, Hasan, Lalu, Made, Udin, Otong Indonesia adalah konstitusi. Sekelompok orang tak menjadi lebih Indonesia dari yang lainnya karena sukunya, karena agamanya, karena pakaiannya. Semuanya setara. Sama! Dan anak-anak harus tetap sekolah, tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.
Pemimpin-pemimpin datang dan pergi silih berganti, tetapi Indonesia harus tetap ada. Dan selama Indonesia ada, anak-anak harus tetap sekolah, tagihan-tagihan harus tetap dibayar, kebutuhan hidup harus tetap terpenuhi.
Lo lagi ngapain, Bro? tanya saya heran melihat seorang teman yang sedang bersemangat bicara sendiri di pinggir empang.
Eh, elo, Bray, katanya sambil nyengir. Ini, Bray... Gua lagi latihan ngemeng. Kayaknya enak jadi politikus. Apa-apa aja disediain sama negara. Orang-orang pada hormat sama kita.
Oh gitu. Dari tadi elo latihannya?
Lumayanlah, ada satu jam lebih. Haus juga jadinya nih. Ngopi kita?
Yuuuk, sahut saya. Eh, kalo elo nanti udah jadi, jangan lupa gua ya, Bro...
Tenang aja, Bray. Temen itu selamanya temen. Nanti elo yang pertama gua kasih proyek.
Asiiiiikkkk... Bener ya? Gua pegang omongan lo!
Kapan sih gua bohong sama elo? jawabnya.
Kemaren! sahut saya cepat.
Dia garuk-garuk kepala lalu tertawa. Saya ikut tertawa melihat wajahnya yang lucu. Dia lalu merangkul saya. Tapi nanti kalo gua udah jadi, gua gak bakalan bohong lagi deh sama elo, katanya. Dasar pembohong, kata saya dalam hati. Kami berdua tertawa, berangkulan menuju warung kopi, tempat rakyat jelata menghibur diri.
Minggu, 24 Desember 2017
Sepatu
"Malam Natal akan tiba dalam beberapa jam lagi. Tidak baik sepatu ini nanti senyum-senyum sendiri di dalam gereja. Apa lagi kalau sampai mangap. Tidak boleh!" katanya dalam hati.
Juru selamat sepatu adalah tukang reparasi sepatu. Segera ia berangkat dengan misi penyelamatan.
"Wah, banyak pasiennya ya, Pak?" sapanya kepada bapak tua tukang sol sepatu sambil menyerahkan sepatunya.
"Lumayan, Mas... Rejeki mah ada aja."
"Tolong yang rapi ya, Pak, saya mau pakai untuk natalan."
Bapak tua tukang sol sepatu itu menganggukkan kepala sambil memperhatikan senyum pada sepatu yang kini ada di tangannya.
"Tak ada yang lebih tabah daripada sepatu," kata Bapak tua itu sambil menjahit sepatu yang berserah penuh kepadanya.
"Lho... Itu mirip sajaknya Sapardi... Bapak suka puisi juga?"
"Iya, Mas. Kadang-kadang saya juga bikin puisi. Tapi mana ada yang mau mendengar atau membaca puisi tukang sol sepatu seperti saya."
"Kirim ke koran aja, Pak..."
"Malu ah, Mas... Nanti dikira orang saya ini penyair. Padahal cuma tukang sol sepatu."
Lelaki pemilik sepatu hanya tersenyum mendengar jawaban bapak tua itu.
"Beres!" kata bapak tua itu setelah menyelesaikan tugasnya. "Semoga awet ya... Oh, iya, selamat Natal ya, Mas..."
"Terima kasih. Bapak Natalan juga?"
"Nggak, Mas. Saya agnostik."
"Busyet..." kata Si Pemilik sepatu dalam hati sambil tersenyum. Kali ini sambil menggaruk kepalanya.
"Semoga Natalannya meriah ya, Mas Penyair," kata bapak tua itu sekali lagi
"Makasih ya, Pak... Tapi saya bukan penyair, lho... Saya penginjil."
"Iya, saya kira juga begitu. Tampak jelas dari bentuk sepatunya."
"Hahaha..." Si pemilik sepatu hanya tertawa sambil memandangi hak sepatunya yang telah menipis pada sisi luarnya.
Mengucapkan terima kasih sekali lagi, lelaki itu mohon diri kepada bapak tua tukang sol sepatu.
Malam Natal tiba dengan segala kelembutannya serupa wajah bayi. Bintang-bintang berkerlap-kerlip gembira dalam rangkaian indah menyerupai gambar sepasang sepatu.
Lelaki itu memasuki gereja dengan senyum riang. Seperti senyum seorang anak kecil yang bahagia mendapatkan sepatu baru di Hari Natal.
Kamis, 21 Desember 2017
Untuk Bastian
Lebih dari setahun sejak kehadiranmu ke dunia ini, belum juga terangkai kata-kata terbaik untuk dirimu. Ternyata menulis puisi itu bukanlah hal gampang seperti yang sering dikatakan tukik-tukik itu. Hahaha…
Kutulis catatan ini, Bastian, setelah baru saja kau tertidur di pundakku. Ketika badanmu hangat karena gigimu akan bertambah lagi.
Kepalamu yang mungil kaubenamkan di pundakku, seakan ingin meletakkan semua rasa sakitmu di situ. Air mata dan liurmu menyatu, membentuk sungai kecil yang mengalir di punggungku, mengadu kepada daging dari mana kau berasal. Kunyanyikan lagu Madekdek ma Gambiri da Bastian untukmu.
Bastian, minggu terakhir di bulan Juni itu, tangisan pertamamu begitu kuat menembus dinding dan kaca-kaca ruang persalinan. Jam sembilan malam waktu itu. Aku tertawa mendengar tangisanmu yang keras itu. Kau pasti keras kepala, pikirku. Hahaha… apakah tangisan pertama seorang bayi bisa memberi kesan tentang sifatnya kelak? Aku tak tahu. Tapi, Bastian, pikiran orang dewasa memang suka sekali menilai sesuatu dari kesan pertama.
Tubuhmu yang begitu mungil kemudian dibawa oleh perawat ke dekap susu ibumu. Wajah Ibuku, opung borumu, terlihat bahagia menyambut kehadiranmu.
Aku mempersiapkan nama Rain untuk dirimu. Tapi di hari engkau lahir di bulan Juni itu tak ada hujan. Hanya ada daun-daun jatuh dipetik angin. Nama itu tak jadi untukmu.
Lalu setelah kau dan ibumu dipindahkan ke kamar perawatan, kuletakkan ponselku di dekatmu. Mp3 di ponsel menyanyikan musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni, walau pun tak ada hujan di bulan Juni itu. Harapanku kau tabah, arif dan bijak seperti puisi itu. Bukankah begitu hidup harus dihadapi supaya kita mengerti arti kata suka dan duka?
Dan Bastian, ibukulah, opung borumulah, yang kemudian memberimu nama yang sekarang melekat di dirimu. Keren ya, nama yang sama dengan seorang seorang dokter dan etnolog Jerman, Adolf Bastian, yang mempopulerkan nama Indonesia ke seluruh dunia lewat laporan perjalanan dan penelitiannya. Ibuku senang, karena namamu senada dengan namanya. Basaria-Bastian.
Bastian, anakku sayang, hari ini, 22 Desember, adalah hari lahir opung borumu. Bertepatan dengan Hari Ibu yang dirayakan di negeri kita ini. Terasa sekali bahwa hari ibu itu menjadi miliknya, dan menjadi milik kami anak-anaknya.
Kau tahu, Bastian, di setiap Hari Ibu, banyak sekali ucapan dan tulisan tentang kebaikan-kebaikan seorang ibu disampaikan. Kebaikan yang salah satunya kusaksikan pada ibuku, pada opung borumu; bagaimana tangannya yang begitu cekatan memandikanmu, membersihkan dirimu dan memakaikanmu popok setelah kita pulang dari rumah bersalin.
Apa yang ia perbuat kepada diriku dulu seperti terulang kembali; bernyanyi memberikan kenyamanan, memberi kehangatan dalam dekapan dan membersihkan tokai bapakmu ini, itu juga yang dilakukannya untukmu. Bagaimana seorang anak bisa membalas kebaikan seorang ibu kalau begitu?
Bastian, dalam sebuah percakapan, seorang teman berkata kepadaku, bahwa ia sangat menyukai puisi-puisiku tentang ibu. Tetapi kemudian dia berkata bahwa dia tak tahu rasanya punya ibu.
Aku terkejut mendengar perkataannya. Agak lama aku seperti orang bisu, tak tahu bagaimana harus menanggapi ucapannya. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menghentikan percakapan kami. Mungkin itu kesedihan, tetapi kesedihan yang saat itu belum begitu kumengerti.
Bastian sayang, biasanya setiap tanggal 22 Desember, aku selalu mencium kepala dan kedua pipi opung borumu dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Tak ada perayaan besar, hanya ngobrol-ngobrol kecil antara ibu dan anak lelakinya, sambil minum Coca cola atau Sprite. Tak ada lilin dan tak ada bunga untuknya.
Bastian, seperti kebanyakan anak kepada orangtuanya, aku punya mimpi memberangkatkan ibuku ke tanah terjanji, melihat tempat di mana Kristus lahir. Ke Betlehem, lalu Yerusalem, Sungai Yordan, dan tempat-tempat penuh makna lainnya yang tertulis di dalam alkitab.
Tapi ternyata tahun ini mimpi itu harus pupus. Opung borumu sudah tak ada lagi bersama dengan kita. Di saat terakhirnya di rumah sakit, aku meminta kepada Tuhan untuk memberikan kesembuhan kepada opung borumu. Tetapi Tuhan memberikan yang lain. Dia menunjukkan kuasaNya. Bukan kehendak kita yang jadi, tetapi kehendakNyalah yang jadi. Opung borumu harus pergi sebelum semua itu terwujud. Kadang aku merasa bahwa sebagai seorang anak, aku terlalu lambat mewujudkannya.
Dan begitulah, Bastian, opung borumu, perempuan yang selalu kucium kepalanya itu tak sempat menjejakkan kakinya di tempat di mana Kristus dilahirkan, tapi ia berjumpa langsung denganNya. Bertemu muka dengan muka.
Opung borumu pergi menyisakan kesedihan untukku. Aku bersedih bukan karena tak tahu kemana opung borumu pergi. Tetapi karena aku tak bisa lagi ngobrol ini itu dengannya. Pertanyaan-pertanyaan kecil bersamanya seperti “lagi ngapain?”, “banyak yang beli buku?”, atau “udah makan belom?”, sekarang terasa begitu berarti. sebuah lagu penghiburan kemudian menguatkanku, bahwa suka dan duka dipakaiNya untuk kebaikanku.
Bastian, hari ini aku baru tersadar, bahwa aku tak pernah memberikan bunga kepadanya. Juga di setiap hari ulang tahunnya. Tetapi sekarang aku selalu membawakan bunga untuknya, setiap aku berkunjung ke kediamannya yang baru, setiap kali aku kangen ngobrol-ngobrol dengannya. Olehnya kini aku tahu, Bastian, bahwa apa yang gagal diucapkan lewat kata bisa disampaikan lewat bunga.
Dan Bastian, sekarang aku juga mulai mengerti apa yang dikatakan temanku itu tentang tak memiliki ibu. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya tak punya ibu. Sepi sekali rasanya… Benar-benar sepi.
Cepatlah besar anakku sayang. Jadilah lelaki yang lembut. Jangan keras kepala sebagaimana aku sering dikatakan orang-orang terbaik di dekatku. Nikmatilah waktu-waktu yang indah dan berharga bersama ibumu. Semoga cepat hilang rasa sakit yang menyertai bartambahnya gigimu.
Selamat tidur, Bastian, semoga di hari yang lain aku bisa menuliskan satu puisi yang bagus untukmu. I love you.
December 22, 2015 at 9:59pm
Rabu, 20 Desember 2017
Doa
*****
Seorang perempuan cantik berjalan mendekat ke arah di mana saya duduk. Matanya sipit seperti mata saya. Senyumnya manis seperti senyum saya. Lalu dia duduk di sebelah saya. Harum parfumnya yang manis mengepung saya. Pintu Bus kota kembali ditutup dan melanjutkan perjalanan. Suasana tiba-tiba terasa hening. Suatu kehening yang harum.
Perempuan cantik ini sepertinya pendiam, sama seperti saya yang juga pendiam. Dalam hening yang harum, saya berdoa kepada Tuhan supaya saya dijadikannya orang yang pandai bicara.
*****
Setelah sekian waktu hening, saya memberanikan diri menoleh ke arah wajahnya. Saya ingin mengajaknya bicara, mencoba berkenalan, ingin tahu namanya. Dia menoleh ke arah saya dan memberikan satu senyuman manis. Saya balas senyumnya, tetapi tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut saya.
Dia menundukkan kepala, membuka tas yang ada di pangkuannya, lalu mengeluarkan kotak berwarna hitam yang berisi banyak gantungan kunci dan gelang-gelang tangan yang terbuat dari benang.
Kembali ia memberikan senyumnya yang manis itu sembari menyodorkan kotak hitam itu kepada saya. Saya bingung dan menatap wajahnya. Dia kembali tersenyum lalu menganggukkan kepala, menunjuk ke arah kotak itu dengan wajahnya.
Di bagian depan kotak terdapat kertas laminating yang bertuliskan: "Saya bisu dan tuli. Ini buah karya saya. Belilah beberapa dan bayarlah seikhlasnya. Terima kasih."
Saya kembali menatap wajahnya. Dan lagi-lagi dia memberikan senyumnya kepada saya. Saya mengangguk. Lalu saya ambil dua buah gantungan kunci dan memberikan selembar uang kepadanya.
"Dua," kata saya kepadanya tanpa mengeluarkan suara, memberikan simbol victory dengan jari-jari saya ke arahnya. Dia mengangguk.
Saat saya memasukkan gantungan kunci itu ke saku saya, ia menyentuh lembut bahu saya dan memberikan dua buah gelang cantik kepada saya. Dia tersenyum menganggukkan kepala, supaya saya mau menerima kedua gelang itu.
Saya terima gelang itu sembari menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih. Ucapan yang juga tanpa suara. Dia tersenyum senang.
Lalu dia bangkit berdiri. Mengucapkan sesuatu yang tak bisa saya dengar sambil telapak tangannya bergerak dari sisi pipi kanannya mengayun ke arah depan wajahnya, ke arah saya, seperti sedang mengucapkan terima kasih, saya kira. Saya menganggukkan kepala.
Dia kemudian membalikkan tubuhnya, berjalan menuju pintu keluar, berbaris dengan beberapa penumpang yang juga ingin turun, meninggalkan saya dengan harumnya yang manis itu. Saya pandangi ujung rambutnya yang jatuh indah di punggungnya, sampai kemudian hilang di keramaian.
Pintu bis kembali ditutup dan melanjukan perjalanan. Hening kembali datang menyerbu. Tuhanku, kata saya kepadaNya, jadikanlah juga aku ini seorang yang pandai mendengar.
Senin, 04 Desember 2017
Terima Kasih
Percakapan kami terhenti oleh instruksi dari panitia yang meminta setiap yang hadir melambaikan tangan pada drone yang akan mengabadikan kami. Kami melambai ke atas, berteriak seperti anak kecil. Puisi GM seketika hadir di benak saya. Sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi.
Selesai drone mengabadikan kami, kembali ia menawari untuk main ke rumahnya. Saya mengangguk. Masih di Ceger kan, Bu? tanya Oma, seorang teman di samping saya. Masih, jawabnya. Siap, Bu, kata teman saya, nanti kita main ke sana. Bu guru kami tersenyum, lalu kembali ke tempat yang disediakan panitia untuk para guru.
Gua lupa, Ma, kata saya kepada Oma. Namanya bu siapa ya? tanya saya. Bu Rosmawinil, jawabnya. Oh iya, kata saya. Namanya terasa dekat, sesuatu yang akrab di telinga saya, tapi saya lupa.
Ngajar apa dulu? tanya saya. Dia berpikir sejenak. Ngajar bahasa inggris kayaknya, jawabnya. Bahasa inggris bukannya Bu Mira? tanya saya lagi. Oma berusaha mengingat-ingat lagi. Matematika, kali ya? katanya. Saya nyengir. Saya berusaha keras untuk mengingatnya. Dan saya masih tetap tidak ingat.
27 tahun memang bukanlah waktu yang singkat. Ingatan telah tertimbun oleh banyak hal dan peristiwa. Saya pandangi wajah teman-teman saya. Wajah dan tubuh mereka berubah. Beberapa teman perempuan kini mengenakan jilbab. Tubuhnya mekar. Teman-teman lelaki juga demikian. Banyak yang perutnya berubah seperti galon Aqua. beberapa masih dapat saya kenali, sebagian lagi lupa-lupa ingat. Sebagian lagi benar-benar lupa. Kita memang tak selalu bisa mengandalkan ingatan ya?
Du, elo masih inget guru-guru kita itu? tanya saya kepada Edward teman saya. Sebagian, jawabnya. Guru-guru kita masih ada gak yang inget sama elo? tanya saya lagi. Kagak! jawabnya. Tawa kami lantas berderai-derai.
Kemudian kami masuk pada acara pemberian bunga dan kenang-kenangan kepada para guru. Guru-guru kami berdiri di bagian ruangan yang dijadikan panggung. Kami, para murid berbaris, maju satu per satu menyalami para guru.
Neneng, seorang teman kami, membacakan puisi dan menyanyikan lagu ungkapan terima kasih kepada para guru. Saya membungkuk meraih tangan guru-guru saya, mengucapkan kata-kata terima kasih. Tiba di hadapan Bu Rosmawinil, saya tak dapat menahan diri untuk tidak memeluknya. Saya mendekapnya erat seperti memeluk ibu saya sendiri. Saya menangis sugugukan di pundaknya. Air mata saya jatuh di jilbabnya. Saya biarkan perasaan saya mengalir. Untuk hal-hal yang sempat terlupakan, untuk hal-hal yang belum mampu lagi saya ingat, dan untuk apa yang telah didedikasikannya bagi kami.
Terima kasih, Bu, telah hadir dan memberi di hidup kami.
Sabtu, 11 November 2017
Takdir
Bukuku yang bertumpuk-tumpuk
Diserahkannya kepada tukang loak yang rajin lewat di depan rumah
Bikin banyak nyamuk aja, katanya
Karena ibu, akhirnya aku jadi mengerti
Bahwa nyamuk bersarang di buku-buku
Aku tak suka nyamuk, tapi aku suka buku
Jadi sisa bukuku kuberi kelambu
Supaya tak jadi sarang nyamuk
Tapi sejak buku-bukuku kuberi kelambu
Nyamuk-nyamuk malah bersarang di telingaku
Aku jadi susah tidur
Mereka sangat ribut
Suka sekali ngobrol
Tentang SDD dan Jokpin
Tentang Saut Situmorang dan Gunawan Muhamad
Aku jadi pusing tak bisa tidur
Sementara buku-buku bisa tidur tenang
Akhirnya aku pindah tidur
Masuk ke dalam kelambu
Tidur memeluk buku-buku
Ibuku heran melihatku tidur memeluk buku
Ibu memanggil orang pintar
Dikiranya aku punya kelainan
Aku heran, wajahku disembur air
Supaya sembuh, kata orang pintar itu
Lalu menyembur wajahku sekali lagi
Sambil ia komat kamit
Ibu lalu memberinya uang
Uang dari tukang loak yang membeli bukuku
Orang pintar itu tersenyum
Ibu memandangku iba
Mengusap-usap dan mencium kepalaku
Cepat sembuh ya, Nak, katanya
Aku bingung merasa tak sedang sakit
tapi aku mengangguk
Ibu membuatkan aku susu
Minumlah selagi hangat, kata ibu lembut
Sekali lagi aku mengangguk
Lalu ibu membawa keluar semua sisa buku di kamar dan menggantinya dengan satu kitab suci. Bacalah ini. Ia akan menyelamatkan hidupmu, kata ibu
Kulihat seekor nyamuk terbang menyelamatkan diri, menjauh dari ibu
Aku heran, kenapa masih ada nyamuk padahal buku-bukuku sudah kuberi kelambu
Mungkin dia nyamuk yang kutu buku sehingga ia menjadi cerdas dan menemukan cara menembus kelambu, pikirku
Tubuhku mendadak lemas
Seperti orang yang sedang jatuh sakit
Kubaringkan tubuhku dan masuk ke dalam selimut
Samar-samar kudengar percakapan ibu dengan pengepul barang bekas
Buku-bukuku akhirnya ditukar dengan gelas
Kupandangi gelas kosong bekas susu
Entah kenapa aku jadi merasa sangat sedih
Membayangkan buku-bukuku
Menerima takdirnya
Menjadi lembar-lembar kertas pembungkus ikan dan gorengan
RIP, buku, kataku memejamkan mata
Sabtu, 14 Oktober 2017
Aku Ingin
aku ingin mencintaimu gak tanggung-tanggung
dengan rasa manis yang paling didamba
tepung kepada minyak yang menjadikannya cucur
aku ingin mencintaimu gak tanggung-tanggung
dengan rindu yang tak pernah putus
cincin kepada jari manis yang menjadikannya berarti
Minggu, 01 Oktober 2017
October Kiss
“Iya…”
“Kenapa ya, hujan sepertinya selalu bisa mengaduk-aduk perasaan kita?”
“Iya, aku juga sering mikir gitu. Sepertinya ia membawa kepedihan sekaligus keindahan…”
“Mungkin karena dia juga datang membawa dingin, maka kita menciptakan sesuatu yang hangat di pikiran kita, di hati kita.”
“Mungkin…”
Kami berdua terdiam. Lalu tiba-tiba…
“Muuaaaccchhhh…”
“Eh, kamu tuh ya, cium aku nggak permisi dulu,” kataku memegang bibirku.
“Biarinnn… mau marah? Nih, aku tambahin lagi. Muaaahhhh… Muaaahhhh… Muaaahhhhhh….”
“Hahaha… Bandel yaaa…”
“Tapi kamu suka kaaannnn…?”
“Iyaa…”
“Hahaha… Emang maunya… eh, aku harus kerja lagi nih. Musim hujan gini, kamu jaga kesehatan ya, sayang…”
“Iya, cantik. Kamu juga ya…”
“Iya… I love you…”
“Love you too…”
“Bye…”
“Bye too…”
Dia menutup teleponnya.
Langit hijau mencurahkan hujan ke atap dan jendela kaca gedung-gedung tinggi, halte bis kota, dan pepohonan di tepi trotoar jalan.
Angin bermain-main dengan butiran air, membentuk ombak-ombak kecil di udara.
Kurapatkan kancing jaketku. Ya, mungkin karena hujan membawa dingin, maka kita menciptakan sesuatu yang hangat di pikiran kita, di hati kita.
Perlahan-lahan langit berubah merah jambu, seperti warna bibirmu.
Jumat, 29 September 2017
Usai
"Wah, sorenya keren! Oranye!" kataku sambil memandang kaki langit. "Iya, jingga. Aku suka senja seperti ini. Terutama ada kamu di dekatku," katamu melepaskan senyuman manis.
Ya, kau memang lebih suka menggunakan kata-kata yang terdengar puitis di setiap pertemuan kita. Oranye kau katakan jingga, sore kau sebut senja.
Kau begitu mahir merangkai kata-kata indah di setiap hari-hari kita. Bahkan ketika aku tak dapat lagi menemukan kata-kata di akhir September itu, kau masih bisa menghadirkannya dengan terang.
"Usai," katamu dengan bibir bergetar. Lalu terdengar suara langkah kakimu menjauh dan menghilang. Aku diam, berharap jingga senja mampu menahan langkahmu pergi.
Mungkin benar kata para pemujamu, bahwa jantungmu tak hanya mengalirkan darah tapi juga puisi.
Ya, penyair sepertimu memang mampu membangkitkan banyak cinta. Kau memiliki banyak 'kan? Bukan cuma aku? Seharusnya kata usai jangan pernah ada dalam kamus bahasa, supaya kau tak pernah menemukannya dan aku tak pernah mendengarnya.
Aku tahu bahwa tak selamanya senja membawa jingga, karena ia juga terkadang datang bersama hujan.
Dan kuakhiri September tanpa kamu. Juga tanpa jingga yang sangat kau sukai. Hanya aku dan senja, yang datang bersama hujan.
Jumat, 22 September 2017
Herbeth
"Beli kembangnya, Pak," kata saya kepada penjual kembang di depan gerbang komplek kediamannya yang baru.
"Sekalian air mawarnya, Mas?" tanya penjual kembang.
"Nggak usah, Pak," kata saya. Saya hanya ingin menaburkan kembang dan bicara-bicara sedikit dengan adik saya. Penjual kembang itu memberikan sekantung kelopak bunga kepada saya.
Ya, saya hanya ingin menaburkan kembang, lalu bicara-bicara sedikit dengan adik saya. Mungkin tak baik menurut agama, tapi saya sedang kangen adik saya.
Saya masuki komplek makam dengan perih kehilangan yang kembali menyergap, yang membuat kedua mata saya tiba-tiba jadi basah di setiap ayunan langkah yang membawa saya menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Bebarapa anak berseragam sekolah tampak sedang duduk-duduk santai, merokok di bawah pohon rindang di dekat satu makam yang berkeramik bersih. Angin berembus pelan. Sehelai daun jatuh di dekat mereka.
Langkah saya terhenti di depan makam adik saya yang masih berupa gundukan tanah. Saya teringat ketika pertama kali berdiri di depan makam itu, saat peti tempat adik saya tertidur abadi akan diturunkan ke dalam ruang peristirahatannya yang terakhir. Ayah saya ikut memegang tali tambang yang menahan bagian bawah peti itu, menurunkannya pelan-pelan sampai ke dasar peristirahatan terakhir adik saya.
Waktu berjatuhan seperti daun-daun. Ayah saya yang baik itu, yang pada waktu-waktu lalu memegang tali dan kain gendongan, membuat ayunan bayi, supaya anaknya tersayang nyaman dalam lelap tidurnya di setiap malam, sore hari itu kembali memegang tali untuk mengantarkan adik saya, anaknya tersayang, tertidur. Tidur yang selamanya.
"Nggak usah, Pak," kata petugas pemakaman dan saudara-saudara kami meminta tali tambang itu dari tangan ayah, melihat tubuhnya limbung.
"Tidak apa-apa," kata ayah saya membetulkan posisi berdirinya. "Saya ingin mengantarkan anak saya," kata ayah saya lagi. Ia menangis, lalu mengulur tali tambang di tangannya perlahan sambil memandangi peti di mana adik saya berada itu sampai ke dasar makam.
Saya kangen adik saya dan sedang ingin berdua saja. Jadi saya datang seorang diri menjenguknya. Saya duduk di sebelah kiri makamnya. Membaca namanya, tanggal lahir dan tanggal kepergiannya di nisan salib itu. Adikku sayang, kata saya dalam hati, lalu menaburkan kelopak-kelopak bunga ke atas gundukan tanah yang kini menyelimuti tidur tenangnya.
"Kemarin sakit banget ya, No," kata saya sambil menaburkan kembang. Kelopak-kelopak bunga jatuh, begitu juga air dari kedua mata saya.
"Nggak ada yang sakit, cuma lemes doang," jawab adik saya itu, ketika ayah menanyakan bagian mana tubuhnya yang sakit. Makannya juga lahap waktu itu. Ia masih sempat memisahkan dan merapikan makanan-makanan kecil yang disukainya. Lalu ketika ayah saya ingin membantunya ke kamar mandi, ia menolak. "Bisa kok," katanya lalu melangkah ke kamar mandi.
Saya taburkan lagi kelopak-kelopak bunga di atas makamnya.
"Gua baru bikin buku lagi," kata saya, kembali menaburkan kembang. Ucapan dari mulut saya terhenti lagi, digantikan air yang keluar dari mata saya, mendahului kata-kata saya untuknya. "Sayang, lo nggak sempet liat ya..."
Saya sering melihatnya menulis dan menggambar di sebuah buku kosong. Puisi dan gambar-gambar orang. Tulisannya bagus. Kadang ia menulis dalam bahasa inggris. Saya ingin sekali dia menerbitkan tulisan-tulisannya yang selalu tercecer itu.
Di salah satu hari ulang tahunnya, saya pernah menghadiahkan satu buku untuknya. Buku kecil berwarna merah berjudul Mafia Manager. Buku bisnis dan kepemimpinan yang tidak dipenuhi dengan istilah-istilah yang rumit. Enak dibaca. Setiap laki-laki pasti suka membacanya, karena buku itu ditulis berdasarkan pengalaman seorang tokoh mafia. Dan suatu tulisan tentang kejantanan dan trik-trik menyelesaikan masalah ala mafia selalu menarik minat setiap lelaki. Adikku pasti suka, pikir saya ketika membeli buku itu untuknya. Saya tulis satu ucapan selamat ulang tahun untuknya di halaman depan buku itu. Beberapa hari ini saya cari buku itu, tapi belum juga ketemu.
Saya lihat lagi namanya di nisan salib itu. Saya usap pelan namanya, seakan sedang mengusap kepalanya, mengusap pundaknya. Tak ada satu kata pun yang bisa terucap. Saya biarkan air mata saya saja yang bicara. Saya merasa seperti orang cengeng, tapi biar saja, saya sedang kangen adik saya.
"Kangen gua lo ya, No?" tanya saya terisak.
Dulu, saya sering jengkel dan memarahinya karena ia sering tanpa memberi tahu terlebih dahulu, memakai pakaian dan barang-barang kesukaan saya yang memang satu ukuran dengannya. Ketika saya ingin mengenakan pakaian atau sendal atau sepatu yang cocok dan sudah saya siapkan untuk dipakai keluar, ternyata sudah tidak ada di tempatnya, melainkan berada di tempat pakaian kotor. Dia tertawa ketika saya marah. Tentu saja saya tambah jengkel. Dan dia pergi meninggalkan saya.
Tetapi, dia tahu bahwa saya tak bisa terlalu lama marah kepadanya. Lalu ia menawari saya nasi goreng.
Dia memang pintar memasak nasi goreng. Dia adalah andalan kami di rumah ketika ingin menikmati nasi goreng sambil nonton televisi. Lucu sekali rasanya waktu pertama kali memakan nasi goreng buatannya.
"Asinnn..." kata saya. Dia tertawa.
Waktu berjatuhan seperti daun-daun. Tak akan pernah kembali. Saya sering tak terlalu memperhatikan waktu, sebagaimana juga tak memperhatikan daun-daun jatuh, yang berpisah dari rantingnya. Perpisahan datang seperti pencuri. Datang tanpa disangka-sangka. Saya baca lagi namanya pada salib putih di atas makamnya. Hati saya remuk. Mimpi-mimpi saya tentang dan bersamanya musnah sudah. Mimpi saya membaca buku karangannya dan bangga melihatnya berdiri membaca puisi atau mengantarkan sebuah kotbah di atas mimbar harus berhenti sampai di sini.
"Cepet banget lo pergi..." kata saya perih.
Mentari jatuh perlahan di barat. Saya taburkan lagi kelopak-kelopak bunga terakhir yang berada di tangan saya ke tubuh makamnya. Terbayang kembali saat-saat bersama dirinya.
Waktu berjatuhan seperti daun-daun. Waktu yang tak akan pernah kembali, waktu yang merekam begitu banyak kenangan.
"Gua pulang ya, No..." kata saya pamit, mengusap salib putih yang bertuliskan namanya.
Waktu berjatuhan seperti daun-daun. Tawamu kekal dalam ingatan.
Rabu, 30 Agustus 2017
Sejuta Doa
Kucium pelan pipinya di lelap tidurnya
Menanam sejuta doa di kepalanya,
di sela setiap helai rambutnya yang seharum bubuk susu.
"Yang terbaik, selalulah yang terbaik," bisikku mengusap kepalanya.
"Dan di setiap musim yang silih berganti menumbuhkan hujan dan mematangkan matahari, semoga langkah kakimu semakin kuat."
Senin, 10 Juli 2017
Pejaten
di alis manis itu
keindahan yang sabar menunggu
di dekat rindu matamu
tersesat aku
di alis manis itu
yang membawaku masuk menuju
ke sejuta mimpi di matamu
Minggu, 09 Juli 2017
Ririn
Dia bersekolah di SMA 14 Cililitan, saya di SMA 42 Halim. Itu artinya jika berangkat ke sekolah, ia berjalan menuju ke arah barat, saya ke arah sebaliknya, ke timur. Tetapi, karena saya ingin bisa dekat dengannya, saya kemudian berjalan menuju ke arah barat mengikutinya.
Pagi hari, saya mandi lebih serius, menyisir rambut lebih serius dan tentunya tidak lupa memakai bedak MBK. Juga dengan serius. Kemudian, pada waktu jam berangkat sekolah, saya menunggunya di jalan depan rumah. Begitu ia terlihat, saya segera mengejarnya dan berjalan di sampingnya. Dia kaget melihat saya. Saya juga jadi kaget melihat wajahnya yang kaget melihat wajah saya.
Dia kemudian mempercepat langkahnya. Saya juga ikut ‘over gigi’, menyamakan kecepatanya berjalan. Lalu saya menyapanya dan bersikap sok kenal sok dekat. Dia diam. Lantas saya berbicara sendiri tidak karuan menahan debar jantung saya karena salah tingkah. Saya bicara terus, yang penting terlihat orang, kami sudah seperti teman yang sudah akrab.
Setelah sekitar 15 menit perjalanan, sesampai di jembatan Mayasari, dia kemudian menyeberang jalan, karena letak sekolahnya memang berada di seberang jalan.
“Sampai besok ya…” kata saya kepadanya. Dia tak menjawab. Saya meneruskan berjalan kaki menuju terminal Cililitan dan kemudian menumpang Trans Halim menuju sekolah. Hari itu saya terlambat masuk ke sekolah.
Keesokan harinya, diiringi kicauan suara burung nan merdu, saya kembali menunggunya di jalan depan rumah. Dia tidak lagi kaget melihat wajah saya seperti kemarin. Tetapi wajahnya nampak sebal, tetap diam dan tetap cantik. Saya masih tetap sok akrab menyapanya dan mengajaknya berbincang-bincang kecil. Dia masih tetap diam.
Di Jembatan Mayasari, kami kembali berpisah. Dia menyeberang jalan dan saya berjalan lurus menuju terminal Cililitan.
“Sampai besok ya…” kata saya. Dia tak menjawab. Hari itu saya terlambat lagi sampai di sekolah.
Keesokan harinya lagi, seperti biasa, saya kembali menantikannya di jalan depan rumah. Agak lama juga sosok cantiknya tak muncul. Setelah sepuluh menit lagi menunggu, dia akhirnya terlihat juga. Tetapi tidak sendiri, dia dibonceng naik motor oleh Ayahnya. Gaswat! Berseragam loreng pula! Saya sembunyi di balik pohon. Burung-burung yang tadinya asyik berkicau berhamburan mencari pohon lain. Saya lihat dia sempat menengok ke arah tempat saya biasa menantikannya. Ah, Ririn, cantik sekali caramu memandang. Rambutnya melambai dimainkan angin.
Hari itu saya tidak berjalan ke arah barat tapi ke timur dan tidak terlambat tiba di sekolah. Tetapi, hari itu otak saya agak lambat menangkap pelajaran.
Malam harinya saya menulis satu surat cinta untuknya. Di atas kertas warna biru muda bergambar hati dan tentu saja wangi. Beberapa kertas yang manis jadi korban dan masuk ke keranjang sampah, sampai akhirnya saya merasa bahwa isi surat saya benar-banar mantap. Tak lupa saya selipkan sebagian syair lagu Iwan Fals yang sering membuat saya teringat dirinya.
Buat apa kau diam saja
Bicaralah agar aku semakin tahu
Warna dirimu duhai permata
Kau mimpiku aku tak bohong
Seperti yang kau kira seperti yang selalu kau duga
Pintaku kau percayalah
Usah ragu
Lalu saya cium surat itu sebelum masuk ke dalam amplop. Kemudian saya titipkan surat cinta untuknya itu kepada kerabatnya yang kebetulan adalah tetangga kami.
Hari demi hari surat cinta saya tak mendapatkan jawaban. Minggu demi minggu hati saya gelisah menantikan jawaban darinya. Sebulan dua bulan saya tetap setia menantikan jawabannya. Akhirnya sampai si cantik Ririn sudah pindah rumah lagi karena harus mengikuti Ayahnya yang bekerja sebagai abdi negara.
Sekarang sudah lebih dari sepuluh tahun, saya tak pernah menerima jawaban dari Ririn. Saya jadi curiga, jangan-jangan surat saya tak pernah sampai ke tangan pujaan hati saya itu. Jangan-jangan kerabatnya itu juga naksir Ririn.
Rin… rindu yang memenuhi dadaku malam ini, berhasilkah menjatuhkan sehelai saja bulu matamu?
Minggu, 02 Juli 2017
Juli
"Apa cinta juga bisa melukai?" tanyanya lembut. Aku diam menyembunyikan keterkejutanku mendengar pertanyaannya.
"Love you too, dear... Love you more..." ucapnya lembut sambil mencium pipiku setelah membaca goresan yang membentuk kalimat I love you, Juli pada batang pohon itu.
"Menurutmu, apa cinta bisa melukai?" balik aku bertanya kepadanya.
"Aku tidak tahu... Aku tidak mau..." jawabnya.
"Aku juga..."
"Tapi seandainya ternyata cinta bisa melukai? tanyaku lagi kepadanya
"Aku tidak tahu..." jawabnya pelan, lalu memeluk erat tubuhku.
Pelan kucium keningnya. Dan kami pun terdiam, hanyut dalam hangat pelukan penuh cinta sambil memandang luka pada pohon yang perlahan mulai mengering, yang ia sendiri tak tahu mengapa harus menerimanya.
