Minggu, 25 Oktober 2009

Kepada Batsyeba Istriku

Semoga kita selalu dalam bimbingan Tuhan.

Batsyeba istriku,

Bagaimana kabarmu, sayang? Sedang sibuk apa di rumah? Kabarku baik di sini. Sayang, sungguh aku sangat merindukanmu. Rindu harum rambutmu, aroma tubuhmu, manis bibirmu, dan tentu saja aku rindu masakanmu. He he he... Tidak ada makanan selezat masakanmu.

Batsyeba cantik,

Seandainya kita sudah memiliki anak, tentu kamu tidak terlalu kesepian jika aku tinggalkan pergi bertugas seperti saat ini, ya... Seandainya kita sudah punya anak, mungkin kamu sekarang sedang asyik mengajari mereka bernyanyi, mengeja huruf dan menulis angka sambil tertawa bercanda, atau mungkin kamu sedang jengkel menghadapi kenakalan mereka. He he he... Anak-anak, memang selalu ada-ada saja tingkah mereka. Tapi tingkah anak-anak selalu lebih banyak menimbulkan gelak tawa dari pada menjengkelkan, bukan?

Jika anak kita perempuan, pasti ia akan cantik dan berambut indah seperti kamu. Dan kalau laki-laki, tentu tampan dan gagah seperti ayahnya, serdadu tangguh yang kini menjadi suami mu. He he he...
Cantik, aku sungguh tidak sabar untuk segera memiliki anak darimu..

Batsyeba bidadariku,

Aku akan segera pulang, sayang. Peperangan ini akan segera berakhir. Kota Raba, kota Bani Amon itu, telah berhasil kami kepung. Tinggal beberapa penyerangan lagi, maka kita akan memenangi perang ini. Kami sudah berada di garis depan. Kami di pimpin oleh Yoab, Panglima perang luar biasa yang menjadi kebangaan Raja kita, Raja Daud. Ia memimpin kami dengan gagah berani dan selalu bisa menyemangati seluruh pasukan dalam setiap pertempuran.

Batsyeba sayang,

Aku bersyukur pada Tuhan, karena memilikimu, ciptaan terindah di seluruh bumi, menjadi istriku yang selalu setia menungguku. Sayang, aku meminta kamu supaya jangan terlalu kuatir mengenai keadaanku. Aku di jaga Tuhan, sayang... Aku berjanji tidak akan mati dalam peperangan ini. Aku akan segera kembali pulang kepadamu, dan akan hidup seribu tahun lagi bersamamu. Lalu kita akan memiliki banyak anak seperti bintang di langit dan pasir di laut.


Sudah dulu ya, cantik, Sampai bertemu nanti. Aku mencintaimu.


Cium dan peluk penuh cinta dari suamimu,



Uria.






Catatan :

* Uria mati terbunuh dalam peperangan menginvasi Kota Raba, dan di beri gelar pahlawan (Uria di tempatkan oleh Panglimanya di garis depan pertempuran agar mati terbunuh)

* Batsyeba kemudian di peristri oleh Daud Raja Israel yang kemudian memiliki anak yang termahsyur ke seluruh dunia, Salomo.

4 komentar:

  1. hmmm surat cinta yang manis.. :)

    mana surat dari Raja Daud? hohoho.. pasti sedikit hot :D

    BalasHapus
  2. Hahaha... Ternyata Sang Raja buat surat juga ya...?

    BalasHapus
  3. aditya sylvana7 Februari 2011 01.47

    oho sisi lain Uria?

    BalasHapus
  4. Hehehe... Horas, Ito...!!!
    Kira-kira begitulah : ))

    BalasHapus